Kadiv Pemasyarakatan lakukan 3 Poin Penting ke Lapas Perempuan Palangka Raya

Kontribusi dari Pemasyarakatan Kalteng, 21 Juni 2019 09:41, Dibaca 409 kali.


MMCKalteng - Palangka Raya - Palangka Raya – Kepala Divisi Pemasyarakatan (Hanibal) didampingi Kabid Pembinaan (Jevius J. Siathen) serta 2 orang Kasubbid pada Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Tengah melaksanakan kunjungan kerjanya ke Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas II A Palangka Raya, Rabu (19/06).

Dalam kunjungan kerja tersebut,  Kadiv Pas beserta rombongan diterima langsung Kepala LPP Palangka Raya (Dyah Wandansari) beserta seluruh Jajarannya. Dikatakannya bahwa kedatangannya ke LPP dalam rangka melaksanakan 3 (tiga) poin penting pertama yaitu untuk melakukan pengecekan langsung ke lapangan bahwa sejauh mana pelaksanaan dari surat edaran dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan terkait fungsi LPP sebagai Lapas tempat penempatan WBP Perempuan yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah ini. Kedua yakni terkait dengan adanya Revitalisasi Pemasyarakatan dan yang ketiga yakni terkait adanya laporan pengaduan masyarakat yang masuk ke Ombudsman Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah. 

(Baca Juga : Terkait Pemenuhan Pendidikan Anak Didik Pemasyarakatan, LPKA Palangka Raya Bersinergi Dengan Diknas Kota Palangka Raya)


Dalam pertemuan 3 komponen baik dari Divisi Pemasyarakatan, Petugas LPP Palangka Raya maupun WBP yang digelar Mesjid LPP Palangka Raya tersebut, Kalapas  membuka pertemuan tersebut dengan menerangkan bahwa WBP yang ada di LPP Palangka Raya per 19 Juni 2019 berjumlah 117 orang. Dan yang hadir di Mesjid Lapas kali ini sebanyak 115 orang berhubung 2 orang sedang sakit sehingga kita perkenankan untuk beristirahat di kamar, ungkap Dyah.

Sementara Kadiv PAS dalam arahannya mengatakan bahwa melihat apa yang ada saat ini di LPP Palangka Raya sudah dihuni 117 orang WBP yang sebelumnya hanya kisaran 40-50 orang WBP saja, artinya seluruh Lapas dan Rutan yang ada di Kalimantan Tengah telah melaksanakan instruksi dari Direktur Jenderal Pemasyarakatan yang memerintahkan bahwa seluruh WBP Perempuan ditempatkan di LPP Palangka Raya sudah dilaksanakan dengan baik, walaupun saat ini masih banyak berada di Lapas/Rutan lainnya. 


Walaupun secara perlahan dilakukan, mengingat sarana dan prasarana LPP masih banyak kekurangan akan tetapi dirinya menekankan kepada seluruh Kepala Lapas dan Rutan Se-Kalimantan Tengah agar segera melaksanakan pemindahan Napi Perempuan ke LPP Palangka Raya. Hal ini dilakukan sesuai dengan instruksi dari Dirjen Pas dan juga menghindari hal-hal yang terlarang. Misalkan adanya hubungan pacaran antara napi perempuan dan laki-laki yang kemungkinan besar bisa memicu permasalahan bahkan berkembangnya peredaran narkoba. 

Kemudian terkait dengan Revitalisasi Pemasyarakatan, Kadiv Pas menerangkan bahwa seluruh WBP yang ada akan dilakukan assessment sehingga nantinya akan diberikan penilaian apakah masuk dalam kategori di Lapas Minimum, Lapas Medium dan Lapas Maksimum. Dikatakannya bahwa sebelumnya Divisi Pas fungsinya hanya Bimwasdal (Bimbingan, Pengawasan dan Pengendalian) saja. Akan tetapi dengan Revitalisasi Pemasyarakatan sekarang fungsinya bertambah menjadi Bimwasdaldak (Bimbingan, Pengawasan, Pengendalian dan Penindakan).

Selanjutnya poin terakhir yang tidak kalah pentingnya yakni menindaklanjuti adanya laporan Ombudsman Perwakilan Kalimantan Tengah kepada kita  beberapa hari yang lalu yang disampaikan oleh keluarga WBP yang melakukan kunjungan bezuk ke LPP Palangka Raya. Dikatakan dalam laporan tersebut ada petugas LPP yang dititipkan barang makanan kepada WBP akan tetapi tidak sampai kepada WBP yang bersangkutan, kemudian ada juga yang di tolak tidak boleh masuk karena makanan yang dibawa ada yang memang dilarang.

Atas laporan tersebut secara intern kita akan selesaikan secara tuntas. Menurutnya berdasarkan aturan yang sebenarnya, dan untuk diketahui pihak WBP dan keluarga bahwa seluruh titipan bahan makanan dilarang masuk kedalam Lapas akan tetapi dengan adanya kebijakan dari Kalapas maka hal tersebut diperbolehkan asalkan jangan berlebihan yang nantinya bisa dibisniskan didalam Lapas. Karena pihak Lapas sudah menyiapkan makan 3 kali sehari untuk WBP. Selain itu juga kita sudah seringnya menemukan barang-barang yang dilarang masuk kedalam Lapas seperti Narkoba, handphone dan lainnya yang diselipkan melalui bahan makanan titipan tersebut.

Kemudian terkait dengan dilarangnya masuk makanan yang dilarang itu merupakan satu aturan yang memang dari dulu kita laksanakan diseluruh Lapas dan Rutan seluruh Indonesia. Hal ini karena WBP yang ada di Lapas dan Rutan terdiri dari latar belakang yang berbeda. Dengan menghormati keberagaman dan keamanan Lapas maka hal itu kita lakukan, terang Hanibal yang sudah 3 kali menjadi Kadiv Pas di Kantor Wilayah dari Provinsi yang berbeda.

Kami juga tidak pernah mengundang Saudara-saudara kesini dan menjadi warga binaan disini, tapi kerena Saudara  telah melanggar hukum maka dimasukanlah kedalam Lapas. Memang menyesal sesudahnya, kalau mau cepat pulang dan tinggal kembali  dirumah, jalanillah hukuman sebagaimana yang menjadi hukuman kalian. Diakhir pertemuan ini Kadiv Pas menjelaskan dengan adanya Revitalisasi Pemasyarakatan ini dirinya menginginkan adanya perubahan sikap dan perilaku WBP agar menjadi warga yang baik selama menjalani hukuman. Selama dibina disini Janganlah melakukan hal- hal yang melanggar hukum. Apabila WBP nakal dan masih melakukan hal-hal yang dilarang didalam Lapas, maka kami tidak segan-segan akan memasukan ke Lapas Maksimum yakni tidak boleh keluar kamar dan tidak boleh dibesuk, terisolasi dan tidak mendapatkan haknya, ungkap Kadiv Pas yang mengakhiri dialog dengan 115 WBP LPP Palangka Raya. Create : Subbid Pembinaan, TI dan Kerjasama.

Pemasyarakatan Kalteng

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner
Kalteng Bicara Baik.
Mari Jaga Lingkungan Kita.

Facebook