Ivo Sugianto Sabran Beri Paparan Tentang Stunting kepada Kader PKK se-Kalteng

Kontribusi dari Ari Purna Prahara, 05 April 2019 06:52, Dibaca 530 kali.


MMCKalteng - Kotawaringin Timur - Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Provinsi Kalimantan Tengah (TP-PKK Prov. Kalteng) gelar pertemuan dengan anggota TP-PKK se-Kalimantan Tengah, bertempat di Aula Kantor Bupati Kotawaringin Timur, Kamis (4/4/2019).

Turut hadir Ketua TP-PKK Prov. Kalteng Yulistra Ivo Sugianto Sabran, Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kalteng dr. Suyuti Syamsul, MPPM, Kadis Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kalteng dr. Rian Tangkudung, M.Kes, Kadis Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kalteng Hamka, S.Pd., M.Pd, Kadis Kesehatan Kotawaringin Timur Faisal Novendra Cahyanto, serta seluruh kader PKK se-Kalteng.

(Baca Juga : Penanganan Stunting Akan Jadi Fokus TP-PKK)

Yulistra Ivo Sugianto Sabran secara khusus menyampaikan materi tentang bahaya Stunting dan solusi penanganannya. Stunting adalah ketika balita lebih pendek dari standar tinggi badan seumurnya, hampir 9 juta atau lebih dari 1/3 balita di Indonesia mengalami stunting. Kekurangan gizi dalam waktu yang lama pada 1000 hari pertama kehidupan merupakan penyebab Stunting. Perkembangan otak dan fisik menjadi terhambat, sulit berprestasi, rentan terhadap penyakit, ketika dewasa mudah mengalami kegemukan sehingga beresiko terkena penyakit jantung, diabetes dan penyakit tidak menular lainnya. Di usia produktif anak Stunting memiliki penghasilan 20% lebih rendah daripada anak yang tumbuh optimal, Stunting dapat menurunkan produk domestik bruto negara sebesar 3% serta menyebabkan kerugian negara sebesar Rp. 300 triliun per tahun.


Stunting bisa dicegah dengan memastikan kesehatan dan kecukupan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan. Pada masa kehamilan Ibu-Ibu dianjurkan makan makanan yang bergizi seimbang, terutama makanan bersumber protein hewani, agar janin sehat dan bayi lahir dengan selamat. Pada masa 0-6 bulan bayi hanya menkonsumsi ASI saja, 6 bulan - 2 tahun bayi mendapatkan makanan pendamping ASI dengan jumlah, frekuensi dan keberagaman yang cukup sesuai usianya, pemberian ASI dilanjutkan hingga 2 tahun.

Tinggal di lingkungan yang bersih dimana setiap orang menggunakan jamban sehat, perlu dukungan pemerintah agar kesehatan dan kecukupan gizi keluarga dan masyarakat terwujud. Revitalisasi posyandu, Sebagai tempat pelayanan gizi dan kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat, posyandu perlu diaktifkan kembali untuk dapat memberikan layanan dasar pada ibu dan balita, seperti pemantauan tumbuh kembang anak, pendidikan gizi masyarakat, juga imunisasi. Posyandu perlu diperkuat agar dapat mendeteksi anak yang tumbuh kembangnya terhambat, memberikan makanan tambahan dan merujuknya ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai.


Pelatihan tenaga kesehatan, Kecakapan tenaga kesehatan terutama bidan dan kader perlu diperkuat agar mereka mampu memberikan pelayanan gizi dan kesehatan yang lebih baik. Pelatihan ini termasuk di antaranya pelatihan konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), pelatihan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan pelatihan cara mengukur tinggi dan berat badan anak.

Pemberian suplemen gizi mikro untuk ibu, balita, Ibu hamil (Bumil) dan balita perlu kecukupan gizi mikro agar tumbuh kembang janin dan balita optimal.Karena itu, pemerintah perlu memastikan ketersediaan Tablet Tambah Darah (TTD) di fasilitas-fasilitas kesehatan tempat bumil memeriksakan kandungannya serta ketersediaan vitamin A dan obat cacing di setiap Posyandu.

Memfasilitasi keluarga agar memiliki dan menggunakan jamban sehat, angka stunting lebih tinggi pada anak-anak yang sering terkena diare dan angka diare anak-anak yang keluarganya buang air besar sembarangan, 66% lebih tinggi dibandingkan dengan yang keluarganya menggunakan jamban sehat. Karena itu program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) harus diperluas, untuk memastikan setiap keluarga memiliki dan menggunakan jamban.

Salah satu penyakit yang menyebabkan stunting adalah diare. Penularannya sebagian besar melalui air. Karena itu, akses terhadap air bersih bagi masyarakat harus diperluas, dan masyarakat perlu dididik agar dapat mengolah dan menyimpan air minum dengan aman.

Jika angka Stunting turun maka pertumbuhan ekonomi meningkat, investasi untuk mencegah Stunting menjanjikan keuntungan 48 kali lipat. Artinya jika kita berinvestasi Rp. 100 juta saja. keuntungannya bisa mencapai Rp. 4,8 miliar. (ARP/Foto:ASEP)

Ari Purna Prahara

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner
Kalteng Bicara Baik.
Mari Jaga Lingkungan Kita.

Facebook