Berawal dari Tanaman Kembang Sepatu, Enam Murid SMAN 2 Palangka Raya Raih Silver Medal di ISIF 2026

Kontribusi dari Dinas Pendidikan Prov. Kalteng, 19 Oktober 2026 13:42, Dibaca 50 kali.


MMCKalteng - PALANGKA RAYA – Berawal dari tanaman kembang sepatu yang tumbuh di lingkungan masyarakat, enam murid SMAN 2 Palangka Raya berhasil mengembangkan gagasan penelitian hingga meraih prestasi di tingkat internasional. Raisya Arina Zaidan bersama Cut Nadia Putri Raya, Vania Cassandra Joycelin, Riris Esther Sitorus, Yasmine Batrisya Agata, dan Gilang Natanael Tanggara menorehkan pencapaian melalui penelitian tentang potensi daun kembang sepatu sebagai bahan alami untuk membantu penanganan demam. Senin (19/10/2026).

Prestasi tersebut ditorehkan Raisya dan tim setelah berhasil meraih Silver Medal (Medali Perak) pada ajang 8th International Science and Invention Fair (ISIF) 2026 yang berlangsung di Balai Purnomo Prawiro, Universitas Indonesia, Depok, pada 12–17 Oktober 2026. Dalam kompetisi tersebut, mereka mempresentasikan penelitian berjudul From Local Wisdom to Scientific Evidence: Validation of Hibiscus rosa-sinensis as a Natural First-Aid Treatment for Fever.

(Baca Juga : Dislutkan Bersama BPTP Kalteng dan BPTP Kalsel Latih Masyarakat Kawasan Food Estate Dalam Pemanfaatan Sumber Daya Lokal Perairan Rawa)

Penelitian ini berangkat dari pengetahuan tradisional masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis). Melalui pendekatan ilmiah, para murid mencoba mengkaji potensi daun tanaman tersebut sebagai kompres untuk membantu penanganan demam. Gagasan yang berakar dari kearifan lokal itu kemudian dikembangkan menjadi sebuah penelitian yang dipresentasikan di hadapan juri internasional.

Mewakili tim, Raisya Arina Zaidan mengungkapkan bahwa kompetisi tersebut memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mempresentasikan hasil penelitian, menjelaskan metode yang digunakan, serta menjawab berbagai pertanyaan dari dewan juri.

“Dalam kompetisi ini, saya bersama tim membawa penelitian tentang pemanfaatan daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) sebagai kompres untuk membantu penanganan demam. Penelitian ini berangkat dari pengetahuan tradisional yang ada di masyarakat, kemudian kami coba kaji melalui pendekatan ilmiah untuk melihat potensinya lebih lanjut,” ungkap Raisya. 


Ia mengaku bersyukur atas pencapaian yang diraih bersama tim. Menurutnya, keberhasilan memperoleh medali perak bukan hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga pengalaman berharga untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan dalam bidang penelitian.   “Puji syukur, penelitian yang kami bawakan berhasil meraih Silver Medal. Tentunya ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya, karena bisa belajar banyak hal baru sekaligus membawa nama Kalimantan Tengah di tingkat internasional,” tuturnya.   Raisya juga berharap pencapaian tersebut dapat mendorong generasi muda untuk lebih peduli terhadap pengetahuan lokal dan berani mengembangkannya menjadi karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Baginya, keberhasilan ini bukan semata-mata tentang medali yang diperoleh, melainkan juga proses belajar, keberanian mencoba hal baru, dan kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah melalui penelitian.  

“Saya berharap karya ini bisa mendorong generasi muda untuk lebih peduli terhadap pengetahuan lokal dan berani mengembangkannya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Pencapaian ini juga menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, berkarya, dan mencoba hal-hal baru ke depannya. Semoga saya bisa terus membawa nama Kalimantan Tengah ke tingkat yang lebih luas,” tambahnya.   Perjalanan Raisya di forum internasional juga diwarnai pengalaman memperkenalkan kebudayaan Kalimantan Tengah. Sebelumnya, ia terlibat dalam Bali International Science Fair (BISF) 2026 di Denpasar, Bali. Dalam kegiatan tersebut, Raisya bersama murid SMAN 2 Palangka Raya lainnya mendapat kesempatan tampil pada seremoni pembukaan dengan membawakan Tari Bahalai, salah satu kesenian yang merepresentasikan kekayaan budaya Kalimantan Tengah. Ia juga menjadi bagian dari tim penelitian berjudul Is Life After Graduate Phenomenon Real for High School Student.  

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa ruang kompetisi internasional tidak hanya menjadi tempat bagi para murid untuk menguji gagasan dan kemampuan akademik, tetapi juga kesempatan memperkenalkan identitas budaya daerah. Dengan mengangkat tanaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan mengembangkannya melalui penelitian, Raisya bersama rekan-rekannya menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi titik awal lahirnya inovasi, sekaligus membawa nama Kalimantan Tengah ke panggung yang lebih luas. (Rzn/Foto: Ist). /Edt: Ek

Dinas Pendidikan Prov. Kalteng

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner

Facebook
Twitter