Sekilas Info
Kontribusi dari Rikah Mustika, 29 Agustus 2026 18:47, Dibaca 125 kali.
MMCKalteng – Palangka Raya – Kalimantan Tengah memperoleh dukungan helikopter Black Hawk untuk memperkuat operasi water bombing dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bantuan armada udara tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pemadaman di tengah kondisi kemarau yang masih berisiko.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah Ahmad Toyib menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Sabtu (29/8/2026).
(Baca Juga : Dislutkan Prov. Kalteng Terima Kunjungan Kaji Tiru Diskan Kotim)
Menurut Ahmad, dukungan Black Hawk tersebut menjadi tambahan kekuatan dalam operasi pemadaman dari udara. Namun, saat ini unit tersebut belum dapat dioperasikan karena mengalami kerusakan mesin dan masih menunggu suku cadang dari luar negeri.
“Black Hawk ini merupakan salah satu dukungan untuk memperkuat operasi water bombing. Saat ini memang belum operasional karena mengalami kerusakan mesin dan masih menunggu suku cadang,” ujar Ahmad.
Ia menjelaskan, proses pengadaan suku cadang membutuhkan waktu karena Black Hawk memiliki spesifikasi militer Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan teknisnya harus melalui prosedur dan perizinan tertentu.
“Spesifikasi Black Hawk ini merupakan spesifikasi militer, sehingga untuk mendatangkan suku cadangnya ada proses perizinan yang harus dipenuhi. Ini yang menyebabkan perbaikannya membutuhkan waktu,” jelasnya.
Sambil menunggu Black Hawk kembali beroperasi, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah saat ini mengoperasikan empat helikopter water bombing. Armada tersebut difokuskan pada titik-titik yang dinilai strategis, termasuk kawasan Center of Gravity di Palangka Raya.
“Operasi water bombing saat ini kita arahkan terutama untuk mengamankan Center of Gravity di Palangka Raya, sehingga dampak karhutla tidak sampai mengganggu operasional penerbangan di Bandara Tjilik Riwut,” katanya.
Selain armada pemadam, Satgas Udara BPBD Provinsi Kalimantan Tengah juga mengoperasikan dua helikopter patroli, satu helikopter untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta satu pesawat Casa 212 untuk mendukung pelaksanaan OMC.
Kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan utama penanganan karhutla. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), indeks El Nino berada pada angka 2,99. Puncak kekeringan diperkirakan masih berlangsung hingga akhir September, dengan curah hujan diharapkan mulai meningkat pada Oktober.
Kondisi lahan yang kering membuat api lebih cepat menyebar dan berpotensi menghasilkan kabut asap tebal. Dampaknya juga dapat menurunkan jarak pandang hingga 300–500 meter.
Ahmad menegaskan, operasi pemadaman udara perlu berjalan beriringan dengan penanganan di darat agar titik api dapat dikendalikan secara optimal.
“Setiap operasi dari udara harus diikuti pergerakan pasukan di darat. Dengan begitu, titik api yang sudah ditekan dari udara dapat segera ditangani sampai benar-benar padam,” tegasnya.
Rapat koordinasi tersebut dipimpin oleh Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, dan dihadiri oleh Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Edy Pratowo, unsur Forkopimda Provinsi Kalimantan Tengah, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Linae Victoria Aden, serta para Kepala Perangkat Daerah terkait di lingkup Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. (Rkh/Foto:TRA)