Ribuan Hektar Kebun Pisang Kepok di Seruyan Terserang Virus Fusarium

Kontribusi dari Sekretariat DPRD Provinsi Kalteng, 20 April 2018 07:42, Dibaca 1,310 kali.


DPRD Kalteng - PALANGKA RAYA – Ribuan hektar kebun pisang Kepok milik petani  di wilayah Kecamatan Seruyan Hilir Timur terancam gagal panen. Pasalnya, kebun pisang yang selama ini menjadi andalan pertanian masyarakat setempat terserang virus Fusarium.

Hal itu merupakan salah satu temuan, Anggota DPRD Kalteng, H Syahruddin Durasid, saat melaksanakan reses secara perorangan, ke wilayah itu, Kamis (19/4).

(Baca Juga : Dewan Kecam Dugaan Provokasi Negatif di Medsos)

Menurutnya, lahan pertanian Pisang Kepok Lokal tersebut terdapat di unit 3, unit 2 dan unit 1 di Kabupaten Seruyan, ribuan hektar tanaman pisang Kepok yang dikelola oleh masyarakat Desa Sei Bakau itu habis terserang hama/virus layu Fusarium. Hal itu langsung disampaikan oleh masyarakat Sei Bakau kepadanya, saat melaksanakan reses, kemarin.

“Dari hasil reses perseorangan DPRD Provinsi Kalteng ke Desa Sei Bakau, Kecamatan Seruyan Hilir Timur, masyarakat menyampaikan bahwa lahan pertanian Pisang Kepok lokal unit 3, unit 2 dan unit 1 habis terserang hama/virus Layu Fusarium hampir mencapai ribuan hektare dan sudah dicoba ditangan, namun belum membuahkan hasil,” kata Syahruddin.

Wakil Rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) Kalteng II meliputi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan Seruyan ini juga  menjelaskan, sebelumnya unit 3 dan 2 sudah terserang habis, kemudian virus tersebut terus meluas ke unit 1 dan tidak dapat dicegah lagi, kecuali semua tanaman tersebut dimusnahkan secara keseluruhan dengan cara dibakar.

“Setelah seluruh unit terserang virus tersebut tidak dapat dicegah lagi, kecuali semua tanaman tersebut dimusnahkan secara keseluruhan dengan cara di bakar. Dan yang menjadi keluhan masyarakat adalah gagal panen, sehingga masyarakat mengharapkan solusi dari Pemerintah serta mengharapkan bibit Pisang dengang jenis pisang Kepok unggulan yaitu pisang Kepok Tanjung,” terang legislator dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Anggota Komisi B DPRD Kalteng, yang membidang ekonomi dan sumber daya alam (SDA) ini juga memaparkan, petani pisang Kepok di Desa Sei Bakau adalah petani binaan baru yang beralih profesi dari Nelayan, kemudian mencoba profesi baru menjadi petani melalui program pemerintah cetak sawah baru, karena sulitnya nelayan hidup dari hasil tangkapan ikan perairan laut.

“Jadi, informasi yang kita dapatkan adalah petani pisang Kepok di Desa Sei Bakau adalah petani binaan baru, yang beralih profesi dari Nelayan. Dan alasan mereka beralih profesi adalah semakin berkurangnya wilayah tangkapan nelayan lokal akibat wilayah tangkapan dikuasai oleh nelayan-nelayan dari pulau Jawa, kemudian dengan adanya kebijakan Kementrian yang baru dengan dibatasinya jenis alat tangkap, serta sampai sekarang belum ada solusi bagi nelayan,” tambah Syahruddin.

Selain itu, sambung Syahrudin, masyarakat berharap adanya penambahan pembukaan lahan baru, karena hingga saat ini, masih banyak nelayan lokal yang beralih profesi belum terakomodir. “Saya rasa, pihak pemerintah perlu mempertimbangkan agar menyetujui upaya penanganan pemusnahan pisang dengan cara membakar melalui koordinasi bersama aparat terkait. Karena saat ini, banyak lahan pertanian tidak kondusif, musnah terserang hama, karena ada perubahan perilaku bercocok tanam tanpa membakar. Sebenarnya kearifan lokal bercocok tanam dengan cara membakar ternyata punya pengaruh positif untuk membunuh hama di sekitar lahan pertanian,” pungkas mantan Anggota DPRD Kota Palanga Raya ini.

Untuk diketahui, virus layu fusarium atau sering disebut Penyakit Panama pada tanaman pisang, disebabkan oleh Fusarium Oxysporum f. Sp Cubense (FOC). Penyakit ini merupakan penyakit paling berbahaya yang menyerang tanaman pisang. Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian lebih dari 35 %. Penyakit ini juga menular melalui tanah, menyerang akar dan masuk kedalam bonggol pisang. Didalam bonggol ini jamur merusak pembuluh sehingga menyebabkan tanaman layu dan akhirnya mati.

Gejala-gejala dari penyakit tersebut adalah menguningnya daun pisang dari mulai daun yang tua, menguning mulai dari pinggiran daun, kemudian pecah batang, perubahan warna pada saluran pembuluh, ruas daun memendek, perubahan warna pada bonggol pisang dan biasanya batang yang terserang mengeluarkan bau busuk.

Sekretariat DPRD Provinsi Kalteng

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
DPRD
DPRD
DPRD
Berita Terbaru
Radio Corner

Facebook