Lokal Menuju Global

Kontribusi dari Gusti Mahfuz, 27 Juni 2019 09:48, Dibaca 594 kali.


Kemajuan peradaban dapat mengakibatkan perubahan di segala aspek kehidupan, baik individu, keluarga, masyarakat, bernegara maupun berbangsa. Menyitir pernyataan dari Amin Setyo Leksono, Dosen Universitas Brawijaya, terkait dengan penelitian lokal menuju global. Beliau menyoroti dari aspek kebudayaan. Aspek ini menjadi salah satu kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan nilai yang beragam. Hal ini sebagai sebuah proses yang harus dijalani, dimaklumi, dan kehadirannya senantiasa menimbulkan berbagai perubahan dalam praktiknya. 

Ketika ingin mempertahankan sebagai sebuah warisan leluhur bersama yang wajib dijaga dan dilestarikan. Ada upaya untuk membuat, menguatkan, dan meningkatkan kreativitas. Pada akhiranya akan melahirkan berbagai interpretasi terhadap budaya lokal. Budaya lokal tersebut akan dipertaruhkan di tengah kancah kebudayaan global. Meskipun demikian, terdapat paradigma yang berbeda dalam memandang budaya global. Arah yang didalami adanya tindakan yang dilakukan telah tidak mengubah keaslian kebudayaan. 

(Baca Juga : Pemandangan Mudik)


Pendalaman yang dialami berkenaan dengan makna akibat erosi pemerkayaan dan pemajuan budaya lokal. Keanekaragaman budaya di Indonesia dapat mencerminkan dalam berbagai ekspresi. Ekspresi tersebut mampu beradaptasi dan mentransformasikan budaya lokal dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu mengubah dunia secara mendasar. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses lokal menuju global. Berkaitan dengan semakin meningkatnya koneksi global. 

Persentuhan antara budaya satu dan budaya yang lainnya justru memperkaya dan melengkapi kebudayaan lokal. Pembangunan budaya yang berkarakter menuju penguatan jati diri dan kearifan lokal yang dijadikan sebagai dasar pijakan dalam penyusunan strategi dalam pelestarian dan pengembangan budaya. Pengaruh yang bersifat positif seperti tersedianya informasi yang dapat diakses secara cepat, masif, dan ekonomis serta terjalinnya kehidupan manusia oleh jaringan komunikasi dan transaksi global. Shiva (2000) mengungkapkan bahwa global berarti ditariknya yang lokal ke global. 

Global bukan menjadi halangan untuk selalu menjaga, menjamin, dan mengembangkan kebudayaan masyarakat, melainkan sebagai sarana untuk lebih memperkuat lokal. Perbedaan yang terjadi dalam kebudayaan Indonesia dikarenakan proses pertumbuhan yang berbeda dan pengaruh dari budaya lain yang ikut bercampur di dalamnya. (Kong Fu Tse, 1970). Lokal tetap bersandar pada filosofi, nilai-nilai etika, cara-cara yang melembaga secara tradisional. Dengan kata lain, nilai-nilai kebersamaan dan budaya tenggang rasa semakin diperlukan di tengah masyarakat. Kontak budaya dapat terjadi dalam tiga wujud budaya, baik sistem budaya, sistem sosial, maupun unsur-unsur budaya fisik. Hasil proses akulturasi budaya lebih didasarkan pada kekuatan setiap budaya. Semakin kuat suatu budaya maka semakin cepat memengaruhi budaya lainnya.

UNESCO sangat memperhatikan keberadaan dan kelangsungan berbagai kebudayaan di dunia. Dengan sertifikasi mengenai warisan budaya di berbagai negara yang memiliki keunikan tradisi dan budaya. Keunikan terdapat pada penataan kampung, bangunan berarsitektur tradisional khas, senjata tradisional, bahasa dan sastra, kesenian, kuliner dan lain-lain merupakan artefak Indonesia. Dalam catatan UNESCO Indonesia saat ini ada 981 warisan alam dan cagar budaya yang dianggap komite World Heritage memiliki nilai yang sangat tinggi di mata dunia (Nugraheni, 2013). Dedikasi menjaga kepemilikan budaya lokal menjadi penanaman rasa jiwa nasionalisme dan harapan masa depan menuju global.(syatkmf)

Gusti Mahfuz

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Artikel
Artikel
Berita Terbaru
Radio Corner
Mari Jaga Lingkungan Kita.
Kalteng Bicara Baik.

Facebook