Sekilas Info
Kontribusi dari BPBD PROV KALTENG, 03 September 2026 13:52, Dibaca 203 kali.
MMC KALTENG, PALANGKA RAYA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menggelar Rapat Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Kamis (3/9/2026).
Rapat koordinasi ini dilaksanakan guna merespons ancaman puncak musim kemarau serta memburuknya kualitas udara akibat kabut asap di wilayah Kalimantan Tengah.
(Baca Juga : Kadiskominfosantik Agus Siswadi Harapkan Keterbukaan Informasi Publik Merambah ke Desa/ Kelurahan)
Kegiatan evaluasi strategis tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng Linae Victoria Aden jajaran Forkopimda Provinsi Kalteng, para bupati dan wali kota se-Kalteng, unsur Forkopimda kabupaten/kota, para Staf Ahli Gubernur, Asisten Sekda, Kepala Perangkat Daerah, Pimpinan Instansi Vertikal, insan media, hingga perwakilan mahasiswa dan elemen masyarakat.
Dalam sambutan dan arahannya, Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah kabupaten/kota dan pemangku kepentingan untuk memperketat penanganan karhutla. Menghadapi ancaman puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2026, upaya penanggulangan dinilai membutuhkan daya tahan ekstra dan kesolidan bersama.
"Menghadapi musim kemarau panjang, penanganan karhutla ibarat lari maraton, bukan lari jarak dekat. Kita tentu berharap karhutla bisa cepat berlalu, tapi kita harus mempersiapkan diri untuk perjuangan yang panjang. Jangan sampai kita hanya kuat di awal, lalu kehabisan tenaga," tegas Agustiar.
Agustiar meminta para bupati dan wali kota memastikan ketersediaan personel, sarana prasarana, logistik, serta dukungan anggaran yang memadai baik untuk penanggulangan karhutla maupun penanganan dampak. Ia menegaskan efisiensi anggaran tidak boleh dijadikan alasan yang menghambat penanganan di lapangan.
"Efisiensi bukan alasan, keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Selain memadamkan api, kita harus fokus menangani dampaknya, terutama kesiapan pelayanan kesehatan seperti rumah oksigen, vitamin untuk relawan dan kelompok rentan, serta ketersediaan air bersih melalui koordinasi dengan Dinas PU dan PDAM," ujar Agustiar.
Gubernur Kalteng juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran TNI, Polri, pemerintah daerah, BNPB, Basarnas, relawan, dan masyarakat yang tak kenal lelah bekerja siang-malam menanggulangi karhutla di lapangan.
Melanjutkan arahan Gubernur, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah dr. Linae Victoria Aden, memaparkan laporan pelaksanaan evaluasi dan kondisi penanganan bencana. Ia menjelaskan bahwa rapat ini bertujuan mengevaluasi upaya penanganan, memperkuat sinergi pemangku kepentingan di puncak kemarau, serta meningkatkan penanganan lapangan agar lebih cepat dan tepat sasaran.
Linae melaporkan, saat ini sebanyak tujuh kabupaten/kota di Kalteng telah menetapkan status Tanggap Darurat Karhutla, yaitu Kotawaringin Timur, Palangka Raya, Barito Selatan, Kotawaringin Barat, Katingan, Kapuas, dan Gunung Mas. Sementara tujuh kabupaten lainnya masih berstatus Siaga Darurat Karhutla.
Berdasarkan data BPBD Kalteng (sumber BRIN/SIPONGI) periode 1 Januari hingga 1 September 2026, akumulasi karhutla tercatat sebanyak 57.928 titik panas (hotspot) dan 2.335 kejadian karhutla.
Luas area terbakar mencapai 6.66 hektare berdasarkan laporan lapangan kabupaten/kota, atau 7.634 hektare berdasar analisis citra satelit Landsat 8. Dari jumlah tersebut, telah dilakukan 29 kasus penegakan hukum, dengan dukungan operasional 6 unit helikopter dan 1 unit pesawat OMC/Patroli.
Kabupaten Kotawaringin Timur mencatatkan angka tertinggi dengan 12.713 titik panas dan 2.280 hektare lahan terbakar, disusul Kabupaten Kapuas (11.028 titik panas) dan Kota Palangka Raya (9.013 titik panas).
Selain itu, berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 2 September 2026 pukul 14.00 WIB, kualitas udara di lima kabupaten masuk kategori Berbahaya.
Angka ISPU tertinggi tercatat di Kabupaten Katingan sebesar 571 (PM2,5), disusul Kotawaringin Timur 546 (PM10), Gunung Mas 502 (PM10), Murung Raya 340 (PM2,5), dan Barito Selatan (Sanggu) 338 (PM2,5). Sementara Kota Palangka Raya mencatat angka ISPU 153 (PM2,5) atau kategori Tidak Sehat.
"Tingkat kualitas udara di sebagian besar wilayah sudah pada level yang merugikan kesehatan secara serius. Hingga saat ini tercatat sebanyak 70.470 orang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sebagai mitigasi, telah disiapkan 102 lokasi Rumah Oksigen, dan seluruh sekolah dari tingkat TK hingga SMA di wilayah terdampak telah melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)," jelas Linae.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalteng, Ahmad Toyib, menegaskan komitmen seluruh tim Satgas Darat maupun Udara dalam menindaklanjuti arahan Gubernur.
"Kami terus memperkuat pemantauan secara real-time dan meningkatkan efektivitas pemadaman darat maupun pemadaman udara (water bombing). Kerja sama dengan Satgas Gabungan dari unsur TNI, Polri, Manggala Agni, serta relawan masyarakat terus dioptimalkan guna mengantisipasi penyebaran titik api yang makin meluas di wilayah-wilayah krisis," jelasnya.
Ahmad Toyib menyampaikan bahwa seluruh personel disiagakan secara intensif untuk memaksimalkan operasi pemadaman langsung di titik-titik rawan kebakaran.
"Kami mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun dan segera melaporkan sekecil apa pun kemunculan titik api kepada petugas terdekat agar bisa langsung ditangani sebelum membesar," tegas Ahmad Toyib.
(Foto: PPID BPB-PK Prov. Kalteng/O) /Edt : EK