Sekilas Info
Kontribusi dari Diskominfo Kobar, 03 September 2026 09:08, Dibaca 396 kali.
MMCKalteng - Pangkalan Bun - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terus menunjukkan peningkatan. Hingga 2 September 2026, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 1.800 hektare, dengan wilayah terdampak terluas berada di Kecamatan Kumai dan Kecamatan Arut Selatan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Barat, Samuel, mengatakan berdasarkan perkembangan terakhir, masih terdapat tujuh titik karhutla yang membutuhkan penanganan. Kondisi terbesar berada di ruas Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama dengan luasan lahan terbakar hampir dua hektare, Rabu (2/9/2026).
(Baca Juga : Pimpin Apel Gabungan, Wabup Seruyan Tekankan Disiplin, Siaga Bencana, dan Integritas ASN)
“Sampai hari ini luasan karhutla di Kobar sekitar 1.800 hektare. Yang paling luas berada di Kecamatan Kumai dan Arut Selatan. Saat ini masih ada tujuh titik yang perlu kita tangani, salah satunya di ruas Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama dengan luasan hampir dua hektare lebih,” ujar Samuel.
Selain di ruas Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama, titik karhutla lainnya berada di sejumlah lokasi, di antaranya ruas Jalan Tanjung Putri, Terantang, Seberang Gajah, belakang pabrik jagung Desa Pasir Panjang, serta beberapa ruas jalan lainnya.
Samuel menjelaskan, kondisi asap dan kabut masih cukup terlihat pada pagi hari di sejumlah wilayah Kobar. Namun, memasuki siang hari, kabut dan asap cenderung berkurang. Kondisi tersebut dipengaruhi posisi geografis Kobar yang berdekatan dengan laut sehingga pergerakan angin turut membantu mengurangi konsentrasi asap.
Dalam upaya penanganan karhutla, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kobar juga telah dua kali melakukan perpanjangan status tanggap darurat. Selanjutnya, status tersebut akan kembali diperpanjang untuk ketiga kalinya, terhitung mulai 4 hingga 18 September 2026.
Menurut Samuel, keberadaan posko karhutla tidak hanya difokuskan pada penanganan kebakaran, tetapi juga menjadi bagian dari upaya penanganan dampak musim kemarau, khususnya terkait ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Pasalnya, sejumlah wilayah mulai mengalami kekeringan akibat terbatasnya sumber air.
Sementara itu, kebutuhan pangan bagi personel yang bertugas dipastikan masih mencukupi. Dapur umum yang disiapkan untuk mendukung operasional satgas mampu memenuhi kebutuhan konsumsi personel, baik yang bertugas di lapangan maupun yang berada di posko induk.
“Ada lebih dari 400 personel yang kita kerahkan untuk penanganan karhutla. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari OPD, TNI melalui Kodim, BPBD, Damkar hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) yang ditempatkan di desa masing-masing. Kesehatan personel juga terus kita perhatikan melalui dukungan tim medis,” jelasnya.
Meski demikian, penanganan karhutla di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya akses menuju lokasi kebakaran yang sulit dilalui kendaraan serta keterbatasan ketersediaan air di beberapa titik. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan strategi dan dukungan peralatan yang lebih memadai.
Untuk mempercepat penanganan, Pemkab Kobar juga berharap dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berupa helikopter water bombing (WB). Usulan tersebut telah disampaikan kepada Gubernur Kalteng melalui Bupati Kobar agar helikopter dapat segera didatangkan dan disiagakan di Bandara Iskandar Pangkalan Bun sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu untuk membantu pemadaman dari udara.
Samuel menegaskan, upaya penanganan karhutla tidak akan maksimal tanpa dukungan masyarakat. Karena itu, ia mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan, terlebih saat musim kemarau yang membuat kondisi lahan menjadi lebih mudah terbakar.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membakar lahan. Di tengah kondisi musim kemarau seperti sekarang, api sangat mudah menyebar dan berpotensi menimbulkan kebakaran yang lebih luas. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah karhutla sejak dini,” pungkas Samuel. (Dsy/ Diskominfo Kobar)/Edt:UL