Sekilas Info
Kontribusi dari Agung Gumilar, 06 Februari 2026 23:48, Dibaca 53 kali.
MMCKalteng - Jakarta- Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajak insan pers untuk terus menjaga kualitas informasi publik di tengah percepatan digitalisasi dan banjir konten di ruang digital.
Menurut Meutya, kecepatan penyampaian informasi perlu berjalan beriringan dengan ketelitian, empati, dan tanggung jawab sosial.
(Baca Juga : Inflasi Tercatat 2,86 Persen, Wamendagri Bima Arya Minta Daerah dengan Inflasi Tinggi Lakukan Pengendalian)
Ajakan itu disampaikan Meutya dalam Diskusi Film "3 Wajah Roehana Koeddoes" yang mengangkat sosok Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama Indonesia sekaligus Pahlawan Nasional, di Jakarta Selatan, Jumat (06/02/2026).
Meutya menekankan kecepatan produksi berita yang tidak diimbangi ketelitian dan empati berisiko melahirkan konten emosional, menyesatkan, dan merusak ruang informasi, terutama bagi generasi muda.
“Karena digitalisasi mengutamakan kecepatan, kepekaan dalam tulisan terasa hilang. Padahal dulu kami sangat mengutamakan rasa dalam sebuah tulisan,” ujar Meutya.
Meutya menegaskan bahwa kebebasan pers sejak awal tidak pernah dimaksudkan untuk merendahkan martabat manusia maupun budaya bangsa.
Ia menilai kondisi ruang digital saat ini menjadi tantangan bersama karena banyak diisi konten yang tidak mendidik dan berpotensi berdampak buruk bagi publik.
“Media sosial dan media baru ini kemudian diisi dengan karya-karya yang justru tidak mendidik, bahkan sebagian merusak generasi muda,” kata Meutya.
Meutya menilai semangat Roehana Koeddoes sejak 1911 tetap relevan sebagai pengingat bahwa pers lahir sebagai alat pendidikan dan pembebasan, bukan sekadar kecepatan dan sensasi.
“Saat ini dengan digitalisasi, semua orang dan semua perempuan bisa menulis dan membuat medianya masing-masing,” jelasnya.
Menjelang peringatan Hari Pers Nasional, Meutya mengajak media untuk kembali menempatkan data, empati, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi jurnalistik agar ruang digital Indonesia tetap sehat, beradab, dan melindungi warga.
“Mari kita kembalikan karya-karya yang penuh rasa, penuh data, daripada emosi semata, dan meneruskan semangat yang telah dipelopori oleh Ibu Roehana Koeddoes,” pungkasnya.(Kkg/Sumber Foto: Pey HS/Komdigi)