Sekilas Info
Kontribusi dari Gusti Mahfuz, 27 Februari 2019 14:36, Dibaca 40,174 kali.
Kearifan lokal akan tetap bertahan jika masyarakat tetap mempertahankan serta melaksanakan pandangan, aturan, nilai, norma yang ada. Perkembangan budaya ditengah perkembangan zaman kadang membuat kearifan lokal semakin dilupakan oleh masyarakat. Namun, kearifan lokal ada dengan proses yang sangat panjang dan memiliki nilai-nilai leluhur yang ada didalamnya dengan adanya kebudayaan sebagai bukti konkrit. Nilai tersebut terdiri nilai historis, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Nilai historis yakni keteladanan, keberanian, tanggung jawab, dan rela berkorban. Nilai sosial yakni solidaritas, kerja sama, gotong royong, kebersamaan dan sopan-santun. Nilai ekonomi yakni kemandirian, kesederhanaan, dan produktivitas.
Kearifan lokal dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Keberadaan kearifan lokal ini memiliki fungsi. Fungsi yang dijelaskan Sartini (2006) bahwa fungsi kearifan lokal adalah: 1) konservasi dan pelestarian sumber daya alam; 2) pengembangan sumber daya manusia; 3) pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan; 4) petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan; 5) bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat; 6) bermakna etika dan moral; dan 7) bermakna politik.
(Baca Juga : Artikelku Menyapa Kota AIR)
Bentuk-bentuk kearifan lokal seperti kerukunan beragaman dalam wujud praktik sosial yang dilandasi suatu kearifan dari budaya. Keberlanjutan dan keseimbangan bentuk kearifan lokal dalam masyarakat dapat berupa budaya (nilai, norma, etika, kepercayaan, adat istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus). Nilai-nilai luhur terkait kearifan lokal yaitu cinta kepada Tuhan, alam semester beserta isinya, tanggung jawab, disiplin, dan mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih sayang dan peduli, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan persatuan.
Kearifan lokal sebagai modal pembentukan karakter luhur. Karakter luhur adalah watak bangsa yang senantiasa bertindak dengan penuh kesadaran, pengendalian diri dan menjadi identitas diri bagi setiap masyarakat dan identitas budaya bagi bangsa. Sartini (Rahardjo, dkk. 2012) menerangkan identitas budaya juga sering disebut dengan lokal genius yang sering dipahami sebagai identitas atau kepribadian budaya suatu masyarakat yang menyebabkan masyarakat tersebut mampu untuk menyerap dan mengolah kebudayaan sesuai watak dan kemampuan diri sendiri dalam menyesuaikan dengan budaya bangsa.
Efektifitas kearifan lokal dalam mengambil peran pembangunan masyarakat disebabkan terutama oleh komunikasi strategis yang disuguhkannya, diantaranya melalui bahasa simbol yang cukup efektif. Kearifan lokal menjadi ciri dari suatu daerah yang perlu dilestarikan dan dijaga keasliannya. Keberlangsungan kearifan lokal di suatu wilayah dilakukan secara turun temurun satu generasi ke generasi berikutnya. Kearifan lokal biasanya tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang telah berlangsung lama.
Atmodjo berpendapat kearifan lokal merupakan kemampuan penyerapan kebudayaan asing yang datang secara selektif artinya disesuaikan dengan suasana dan kondisi setempat (1986). Kemampuan demikian sangat relevan dengan tujuan masyarakat dapat memilih dan memilah budaya yang sesuai dengan karakteristik budaya sendiri. Kemampuan penyerapan kebudayaan asing yang datang secara selektif akan memerlukan pengalaman langsung dari masyarakat. Kearifan lokal yang berada di daerah seyogianya masih terjaga eksistensi. Dalam kearifan lokal terkandung makna kebersamaan dan bijaksana. Harapannya setiap kegiatan memperhatikan aspek kearifan lokal setempat serta mengedepankan konsep pemberdayaan masyarakat ini dapat dilakukan.(syatkmf)