Percepatan Penurunan Stunting di Kalteng

Kontribusi dari Widia Natalia, 12 November 2020 17:41, Dibaca 143 kali.


MMCKalteng - Palangka Raya - Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (Sekda Prov. Kalteng) Fahrizal Fitri mengungkapkan kepada MMC Kalteng bahwa hasil prevalensi stunting di Kalteng Untuk Tahun 2020 mengalami penurunan signifikan. Hal tersebut disampaikan Sekda Prov. Kalteng di Ruang Kerjanya, Kamis (12/11/2020).

Dalam keterangannya, Fahrizal Fitri menjelaskan berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKEDAS) pada Tahun 2013, prevalensi angka stunting di Kalteng mencapai angka 41,04%. Sementara, berdasarkan RISKESDAS Tahun 2018, prevalensi stunting sudah mengalami penurunan dan berada di angka 34.04%.

(Baca Juga : Berikan Semangat dan Motivasi Kepada Petani, Gubernur Serahkan Sejumlah Bantuan)

Hal tersebut menunjukan prevalensi angka stunting di Kalteng pada Tahun 2013 ke Tahun 2018 mengalami penurunan yang signifikan.

"Berkat upaya dan kerja keras Pemprov Kalteng dan Pemkab-Pemko se-Kalteng, angka ini terus mengalami penurunan, sehingga berdasarkan RISKESDAS 2018, prevalensi stunting sudah berada di angka 34.04%", tutur Fahrizal Fitri.

Lebih lanjut Fahrizal Fitri menjelaskan, pada Tahun 2019, kembali dilakukan pengukuran ulang melalui Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), dan didapatkan hasil prevalensi stunting di Kalteng berada di angka 32%. Terjadi penurunan angka prevalensi stunting di Kalteng sebesar 9,04 % dari Tahun 2013-2019.

Disampaikan juga oleh Fahrizal Fitri bahwa Prevalensi stunting pada Kabupaten dan Kota di Kalteng pada setiap pengukuran yang dilakukan, menunjukkan hasil yang bervariasi. Sebagian Kabupaten dan Kota telah melewati angka ideal dibawah 20 % sesuai rekomendasi WHO, namun sebagian lagi masih sangat tinggi dan berada di atas rata-rata Kalteng bahkan Nasional.

Berdasarkan RISKESDAS 2013, prevalensi stunting terendah ada di Kabupaten Lamandau (25,3%), Seruyan (30,4%) dan Kotawaringin Timur (36,9%). Sementara Kabupaten dengan prevalensi tertinggi adalah Barito Timur (54,9%), Katingan (47,6%), Barito Selatan (46,3%).

Pada saat RISKESDAS 2018, Kabupaten dengan prevalensi stunting terendah adalah Seruyan (21,84%), Kotawaringin Barat (22,07%) dan Kota Palangka Raya (22,9%). Sementara kabupaten dengan prevalensi tertinggi adalah Kabupaten Kotawaringin Timur (48,84%), Barito Timur (42,5%) dan Kapuas (41,53%).

Sementara itu, menurut Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) Tahun 2019, Kabupaten dengan prevalensi stunting terendah adalah Murung Raya (17,45%), Lamandau (17,83%) dan Kotawaringin Barat (23,98%). Sedangkan Kabupaten dengan prevalensi tertinggi adalah Kabupaten Kapuas (42,37%), Kotawaringin Timur (39,87%) dan Barito Timur (38,53%).

Pada tahun 2018, Pemerintah Pusat menetapkan tiga Kabupaten sebagai lokus stunting yakni Kotawaringin Timur, Barito Timur dan Kapuas, dan Tahun 2019 bertambah menjadi lima Kabupaten dengan masuknya Dua Kabupaten lokus baru yakni Barito Selatan dan Gunung Mas. Lokus stunting ditetapkan berdasarkan tingginya prevalensi stunting pada satu Daerah.

Pemerintah mendorong aksi konvergensi untuk mempercepat pencegahan stunting, melalu intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terpadu dan bersama-sama terhadap kelompok prioritas. Untuk mendorong percepatan penurunan angka stunting, setiap tahun Ditjen Otda mengadakan lomba aksi konvergensi, yang diikuti oleh seluruh Kabupaten di Indonesia yang menjadi lokus stunting. Pemprov Kalteng setiap Tahun melakukan penilaian aksi konvergensi stunting pada Kabupaten lokus, agar bisa diikutkan pada tingkat Nasional.

Pada Tahun 2019, dilakukan penilaian terhadap aksi 5 – 8 pada tiga Kabupaten lokus stunting, yakni Kabupaten Kotawaringin Timur, Barito Timur dan Kapuas dengan hasil, Juara I Kabupaten Kotawaringin Timur dan Juara II Kabupaten Barito Selatan dan Kapuas. Pada Tahun 2020, kembali dilakukan penilaian pada aksi 1 - 4 yang diikuti oleh lima Kabupaten lokus stunting yakni Kabupaten Kotawaringin Timur, Gunung Mas, Barito Timur, Kapuas dan Barito Selatan. Keluar sebagai juara I Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Gunung Mas, Juara II Barito Timur dan Juara III Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan.

“Pemprov bekerjasama dengan Kabupaten/Kota untuk menurunkan angka stunting ini, dan kita yakin dengan kebersamaam kita mampu" pungkas Fahrizal.(Foto:Asep)

Widia Natalia

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner
Kalteng Bicara Baik.
Mari Jaga Lingkungan Kita.

Facebook