Syukuran Panen Padi Varietas Hibrida Supadi di Kawasan Food Estate Pulang Pisau

Kontribusi dari TPHP Prov Kalteng, 03 September 2020 12:42, Dibaca 413 kali.


MMCKalteng - Pulang Pisau - Program Food Estate sebagai Penyangga Lumbung Pangan Nasional di Kalimantan Tengah dalam beberapa bulan terakhir ini menjadi trending topic pangan strategis bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia. Saat ini, seluruh hamparan lahan sawah di Desa Gadabung, Kec. Pandih Batu, Kab. Pulang Pisau yang termasuk dalam areal kawasan Food Estate telah memasuki musim panen periode pertanaman MT.ASEP (April - September) 2020.

"Lahan seluas 1.212 hektar dari total luas wilayah desa 1.928 hektar tersebut merupakan lahan sudah tanam untuk komoditas padi. Realisasi luas panen hingga akhir Agustus mencapai 50 hektar, hari ini dilaksanakan syukuran panen padi di Poktan Karya Bersama seluas 95 hektar,  untuk sisa  lahan 567 hektar diperkirakan realisasi panen secara bertahap hingga pertengahan September 2020. Provitas padi hibrida supadi mencapai 6 ton/ha,“ lapor Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah, Hj. Sunarti kepada Sekretaris Daerah Kalimantan Tengah, Fahrizal Fitri, dalam kunjungan kerjanya mewakili Gubernur Kalimantan Tengah, H. Sugianto Sabran, di Desa Gadabung, Kec. Pandih Batu, Kab. Pulang Pisau, Rabu (2/9/2020).

(Baca Juga : Satgas PDB Provinsi Tingkatkan Koordinasi dengan Kabupaten dan Kota)

Turut hadir dalam kegiatan Syukuran Panen Padi di Desa Gadabung bersama Sekda Provinsi Kalimantan Tengah diantaranya Kepala Biro Umum, Kepala Biro Administrasi dan Pembangunan Lingkup Sekretariat Provinsi Kalimantan Tengah, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Kalteng Berkah, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Pulang Pisau beserta jajarannya. Sekda Fahrizal Fitri tiba di lokasi Desa Gadabung pukul 13.00 WIB langsung menuju lokasi lahan padi siap panen dan melakukan pemanenan padi bersama empat orang petani menggunakan Mesin Pemanen Padi (Combine Harvester), yang menggabungkan tiga proses penanganan pasca panen dari proses penuaian, perontokan dan pemisahan gabah dalam satu rangkaian operasi.


Teknik pemanenan padi modern menggunakan alat combine harvester merupakan solusi bagi petani untuk efisiensi waktu dan biaya operasional panen. Jika dulu panen satu hektar membutuhkan waktu seminggu, sekarang dengan bantuan alat panen modern, waktu panen paling lama dua jam.

"Bantuan dan dukungan pemerintah sudah diberikan kepada Bapak Ibu sekalian, mulai dari alat pengolah lahan, alat panen hingga alat pasca panen. Untuk itu diharapkan setelah panen ini, lahan segera diolah kembali, mari bercocok tanam, agar target Program Food Estate yang ditetapkan dapat tercapai. Program Food Estate ini tidak hanya padi, ada kombinasi. Di desa Tahai Baru, kita sudah memodifikasi pembuatan batas antar blok lahan, setiap 200 meter dibangun jalan usaha tani, kiri kanannya ditanami jeruk, terus dibuat saluran pengairan, diberi bibit ikan. Ini salah satu tujuan dari Program Food Estate, untuk menambah pendapatan petani setempat. Begitu juga harapan kami, Desa Gadabung dapat menjadi lumbung pangan untuk Program Food Estate,“ungkap Fahrizal Fitri dalam temu wicara dengan petani dan warga masyarakat Desa Gadabung setelah kegiatan panen padi dan makan siang bersama.

Sekilas  profil  pertanian di desa Gadabung disampaikan oleh salah satu Penyuluh Pendamping Lapa (PPL) di desa ini. Desa Gadabung merupakan desa transmigrasi yang sebelumnya dikenal dengan nama Desa Belanti Hulu, Kabupaten Kapuas. Setelah adanya pemekaran wilayah di provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2003, Desa Belanti Hulu berubah nama secara administratif menjadi Desa Gadabung, Kec. Pandih Batu, Kab.Pulang Pisau. Sejarah perkembangan pertanian di desa ini dimulai dari tahun 1989, adanya Program Simpei Karuhei, namun tidak berkembang.


Selanjutnya pada tahun 1994, dilaksanakan pengerukan sekunder dari Dinas PU, yang mengakibatkan petani gagal panen karena pirit (zat besi) yang tinggi. Pada tahun 2003, petani setempat mulai bercocok tanam varietas unggul rasa lokal, yang diperoleh dari varietas  IRNUS (perkawinan inbrida-lokal unus). Tahun 2005 provitas padi masih 1 ton /ha. Tahun 2011 s.d 2015 desa Gadabung  mendapat alokasi kegiatan cetak sawah. Tahun 2013 ada kegiaran SL-PTT serta masuknya program penelitian dan pengembangan  BPTP pada tahun 2015, sehingga provit naik menjadi 2 ton /ha dan terus berkembang hingga sekarang di atas 4 ton /ha.

"Kami sebagai warga desa Gadabung menyambut baik program Food Estate ini. Terima kasih atas dukungan pemerintah mulai dari sarana prasarana produksi, pengolahan lahan, panen, pascapanen serta bimbingan di lapangan, sehingga hasil panen padi hibrida supadi bisa mencapai 6 ton/ha,“ ucap Bpk. Nisrub, Penyuluh Pendamping Lapangan Wilayah Desa Gadabung. ( by. Ita-PMHP)

TPHP Prov Kalteng

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner
Kalteng Bicara Baik.
Mari Jaga Lingkungan Kita.

Facebook