Sektor Industri dan Perdagangan Kalteng Tumbuh Pesat Melalui Pengrajin Lokal

Kontribusi dari Ari Purna Prahara, 02 November 2019 16:14, Dibaca 1,241 kali.


MMCKalteng - Palangka Raya - Kemajuan sektor Perindustrian dan Perdagangan di kepemimpinan H. Sugianto Sabran sebagai Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) patut mendapat apresiasi.

Melalui program-programnya di Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pasar (Disperindagsar), Kalteng berhasil menyita perhatian nasional.

(Baca Juga : Tabuh Katambung, Wagub Tutup Festival Budaya Isen Mulang 2019)

Kepala Disperindagsar Kalteng Aster Bonawaty menuturkan bahwa perdagangan dan Perindustrian di Kalteng saat ini sedang menggeliat.

Pengrajin lokal diberikan sosialisasi dan difasiltasi dalam pemasaran produk. Salah satunya melalui keikutsertaan ekspo dan bimbingan melalui Dekranasda setempat.

Untuk ekspo, Aster menuturkan dalam setiap kegiatan ekspo yang diikuti, produk hasil kerajinan Kalteng saat ini tergolong laris manis. Terbukti, beberapa ekspo yang diikuti, mampu memutarkan nilai rupiah dalam perdagangan.

“Jakarta Fair Kemayoran, Pameran Jogja Tourism-Investment-Trade-Agriculture & Forestry Commodity, Kalsel Expo, Pameran Solo Trade Expo, Kalteng Quality Expo tahun 2016 berhasil meraup jumlah transaksi fantastis. Nilainya mencapai Rp14,5 Miliar,” ungkap wanita yang akrab disapa Bu Ona, Selasa (29/10).

Lanjutnya, hal itu berlanjut di setiap Pameran dalam negeri yang diikuti. Jumlah transaksi yang direkap hingga tahun 2019, mencapai Rp 60,8 Miliar.

Bonawaty menilai ini adalah sebuah bentuk keberhasilan Kalteng menyedot perhatian pelaku usaha untuk meniliki hasil kerajinan khas dayak Kalimantan Tengah.

“Bahkan, belum lama ini ada kunjungan dari pejabat BI pusat yang mampir di Dekranasda. Nilai transaksi yang dihasilkan dalam sehari mencapai Rp 4juta. Ini nilai yang cukup lumayan untuk apresiasi nasional terhadap hasil kerajinan kita,” tambahnya.

Sementara itu, Bonawaty menuturkan ada industri yang saat ini tembus ke pasar luar negeri. Didampingi oleh Kabid Perdagangan Dalam dan Luar Negeri, Adi Soeseno, Bonawaty menuturkan bahwa industri itu merupakan industri limbah kayu yang dimanfaatkan menjadi produk berkualitas. Salah satunya adalah berbentuk sumpit atau chopstick.


Industri ini diterangkan Bonawaty menjadi primadona di luar negeri. Hasil olahan yang dinilai memiliki kualitas bagus, menjadi langganan konsumen yang saat ini rutin untuk diekspor.

“Bahan bakunya dari limbah kayu. Secara awam, 1,3meter dari DBH atau kayu bebas cabang yang dikategorikan limbah diolah untuk menjadi produk sumpit. Saat ini industrinya berada di Kawasan Tembanggung Tilung, Palangka Raya,” imbuhnya.

Meski begitu, Bonawaty juga tidak melupakan primadona bahan baku kerajinan yang saat ini mati suri yakni rotan. Rotan dikatakan Bonawaty saat ini masih terkendali dengan larangan menteri untuk ekspor rotan mentah ke luar negeri.

Namun begitu, ia berupaya untuk menggeliatkan kembali bisnis rotan di Kalimantan Tengah. Salah satunya dengan melakukan penjajakan kerjasama pembuatan pabrik kerajinan.

“Kita sangat berharap adanya larangan ekspor rotan dapat direvisi. Hal ini untuk menyerap aspirasi petani rotan yang ingin menghidupkan kembali rotan sebagai bahan baku kerajinan yang trend pada kalanya,” pungkasnya. 

Geliat komoditi rotan di Kalimantan Tengah mendapat angin segar. Kalteng sebagai salah satu pengasil rotan di kancah nasional memiliki hasil yang melimpah. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah saat ini sedang menjalin kerjasama dengan pengrajin atau pabrikan. Pemprov Kalteng selaku jembatan dari para petani rotan untuk menyuplai rotan mentah.

Permintaan pasar dari rotan mentah itu pun mencapai jumlah besar. Sekretaris Daerah Kalimantan Tengah Fahrizal Fitri menuturkan bahwa saat ini Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng untuk mengirim perdana rotan dan biomass kerjasama dengan pengerajin di skala nasional di Kota Cirebon.

Permintaan suplai disebutkan Fahrizal mencapai 10 ton rotan mentah perhari. Namun, realisasi yang hanya bisa disanggupi hanya 3 ton.
Pemprov menginginkan adanya peredaran rotan di pasar mendapat sambutan positif disertai dengan jaminan harga. Fahrizal menuturkan pemprov telah menjembatani hal ini dengan kerjasama terkait suplai rotan.

“Harapannya untuk memangkas jalur peredaran rotan. Sehingga hasil yang diterima oleh petani langsung dari pengrajin atau pabrikan. Tidak ada biaya potongan dari tangan lain,” ungkap Fahrizal saat gelar Festival KPH di Dinas Kehutanan, Rabu (30/10).


Saat ini diakui Fahrizal kebutuhan ekspor rotan masih terbatas. Hal ini dikarenakan larangan ekspor rotan. Namun, Pemprov berupaya untuk terus menggiatkan kerjasama dalam menyuplai rotan mentah skala nasional. Daerah pengembang pun akan diberdayakan optimal, khususnya di Katingan.

“Termasuk dengan bea cukai dalam pengawasan distribusi rotan ini. Akan diadakan kerjasama. Sekaligus nanti akan dikaji terkait usulan dari setiap daerah penghasil rotan untuk diserap aspirasinya,” imbuh Fahrizal.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Sri Siswanto menuturkan kerjasama ini akan berlanjut dengan mencapai suplai 8 ton. Dalam hal ini, untuk pemenuhan bahan baku rotan, diperoleh dari Kabupaten Katingan. Alasannya, katingan memiliki sumber bahan baku rotan yang cukup melimpah.

Sri menuturkan dalam kerjasama yang dijalin akan terus dikembangkan. Pemprov sebagai jembatan akan berupaya menemukan jalur bisnis suplai rotan lainnya. Ia pun meminta masukan jika ada produsen atau pengrajin rotan yang memerlukan bahan baku untuk dibuat kerajinan.

“Skala bisnisnya sistem jual beli. Siapa yang meminta pasokan, kita jual dengan bahan baku yang tersedia. Saat ini sedang dijalin yakni dengan Cirebon. Ke depannya, mungkin akan ditemukan jalur lainnya,” pungkas Sri

Ari Purna Prahara

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner
Kalteng Bicara Baik.
Mari Jaga Lingkungan Kita.

Facebook