Karakter dalam Berbahasa

Kontribusi dari Gusti Mahfuz, 31 Juli 2019 07:08, Dibaca 209 kali.


Kegiatan menggali serta memperoleh informasi yang bermanfaat melalui media massa dapat dilakukan. Hal ini bertujuan agar tidak terjerumus pada penggunaan media yang dapat menghancurkan karakter. Untuk itu perlu dilakukan pembentukan karakter secara berkesinambungan. Karakter adalah perilaku relatif permanen yang bersifat baik atau kurang baik. Generasi 2045 disebut berkarakter generasi emas harus memiliki sikap positif, pola pikir esensial, komitmen normatif, dan kompetensi abilitas, dan berlandaskan IESQ.

Berkaitan dengan pembelajaran bahasa dan penanaman nilai karakter dalam penyelenggaraan pendidikan. Sekarang pendidikan karakter diintegrasikan ke dalam pembelajaran disertai penguasaan empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis). Bahasa menjadi komponen utama terbentuknya sebuah informasi. Untuk itu, guru harus memperhatikan penanaman nilai-nilai karakter pada siswa melalui integrasi dalam pembelajaran. Ketika guru dapat mengitegrasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran, siswa akan memiliki kebiasaan-kebiasaan positif, baik ketika ada di sekolah maupun di rumah. 

(Baca Juga : Pahlawan Merah Putih)

Bahasa menjadi alat komunikasi paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain (Walija, 1994). Adanya pembelajaran bahasa yang mengarahkan siswa pada sikap berkarakter akan dapat mengendalikan diri, sehingga tidak terseret arus negatif dari penyalahgunaan bahasa. Bahasa tidak mengalami pergeseran fungsi, seperti penggunaan bahasa sebagai alat mencaci maki, menghujat, saling mendiskriminasi terhadap satu informasi yang belum diketahui kebenarannya. Namun, sebaliknya bahasa dapat digunakan untuk menuturkan sikap toleransi dengan kebiasaan baik, seperti jujur, menghargai orang lain, menyayangi teman atau menghormati guru dan orang tua.

Pembelajaran bahasa yang dilakukan sesuai dengan perkembangan bahasa yang dimiliki siswa. Dalam mempelajari bahasa ada empat tugas yang harus lakukan oleh siswa meliputi: 1) pemahaman, yaitu kemampuan memahami makna ucapan orang lain; 2) pengembangan perbendaharaan kata; 3) penyusunan kata-kata menjadi kalimat; 4) ucapan, artinya kemampuan mengucapkan hasil peniruan suara-suara yang didengar dari orang lain (Yusuf, 2004).

Guru memberikan pendidikan karakter dalam bentuk aktivitas pembelajaran siswa. Artinya, siswa memiliki pengalaman belajar, sehingga hasil belajar yang diperoleh akan maksimal dan ini merupakan salah satu kontribusi siswa sebagai sumber daya manusia yang berprestasi dan berkarakter positif. Kebiasaan bersikap baik dan memiliki prestasi akan terbentuk sampai siswa berusia dewasa. Saat mendapatkan prestasi yang baik akan bermanfaat untuk hidup siswa pada masa yang akan datang.

Dalam proses pembelajaran bahasa tidak terlepas dari kebutuhan dan karakter siswa. Guru harus pandai menggunakan beberapa metode pembelajaran sesuai dengan karakter siswa. Ketika guru memiliki pengetahuan yang cukup tentang materi yang akan diberikan kepada siswa, guru akan mudah mentransfer pengetahuan tersebut kepada mereka. 

Sikap positif yang sungguh-sungguh ditanamkan akan membuat siswa bertindak semakin berkarakter, baik dalam pekerjaan, pengembangan kepribadian, hidup di dalam rumah dan perbuatan positif lainnya. Fokus pengintegrasian tersebut, yakni keterampilan berpikir, keterampilan sosial. dan keterampilan mengorganisasi (Fogarty, 1991). Kaitannya dengan karakteristik mata pelajaran menjadi pijakan untuk menentukan keterampilan belajar (Harrel, 2014). Semua hal positif akan mendarah daging dalam diri siswa dan akan menjadi sebuah kepribadian yang mulia. (syatkmf)

Gusti Mahfuz

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner
Mari Jaga Lingkungan Kita.
Kalteng Bicara Baik.

Facebook