Sekolah Jual Buku Pelajaran Harus Harga Wajar

Kontribusi dari Martiana Winarsih, 22 Juli 2019 14:42, Dibaca 351 kali.


MMCKalteng - Palangka Raya – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palangka Raya, Sahdin Hasan mengatakan, kalaupun ada sekolah di kota setempat, terkhusus untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) yang masih menjual buku paket pelajaran kepada siswa, maka boleh-boleh saja, sepanjang harga yang dijual dalam harga wajar.

Menurutnya, kondisi masih adanya sekolah yang menjual buku pelajaran tersebut, lebih dikarenakan pada kebijakan para guru yang memandang penting buku yang standar untuk menunjang proses belajar dan mengajar.

(Baca Juga : Pemko Dorong Pengusaha Tempe Tingkatkan Produktifitas dan Kualitas Tempe)

“Ibarat kata ketika membuat air teh atau kopi, jika kurang manis mesti ditambah gula. Ini perumpamaan, ketiga guru mengajar maka diperlukan alat penunjang. Seperti halnya buku  pelajaran,” ungkapnya, Minggu (21/7/2019).

Namun terlepas dari itu lanjut Sahdin, pihaknya akan terus mengingatkan sekolah atau guru agar tidak menjual buku paket pelajaran dengan harga melambung tinggi.

“Saya pikir orangtua tidak berkeberatan, manakala buku  yang dijual dalam harga terjangkau.Terlebih anak didik  memerlukan buku paket sebagai sumber pelajaran,” tambahnya lagi.

Sejauh ini kata Sahdin, sekolah bebas menggunakan buku tertentu dalam artian tidak harus bergantung pada penerbit yang sudah ditentukan. Hanya saja sepanjang buku yang digunakan dinilai sejalan dengan standar nasional pendidikan.

Ia berkeyakinan, jika masih adanya sekolah yang menjual buku paket pelajaran tersebut, lebih kepada pemahaman dan persetujuan bersama. Baik dari orang tua siswa, komite sekolah, dan juga guru.

“Terutama untuk keseragaman  buku ajar yang dipakai mengikuti sistem standar nasional pendidikan,”ujarnya.

Sementara kerap terlambatnya pencairan anggaran pada program Bantuan Operasional Sekolah atau BOS ungkap  Sahdin, juga menjadi salah satu alasan kenapa masih adanya sekolah yang menjual buku pelajaran kepada peserta didik.

“Inilah problema yang kerap dihadapi sekolah, sehingga akhirnya guru dan  sekolah mengambil kebijakan untuk  mengadakan buku sendiri sesuai kebutuhan dan standar pendidikan nasional,” bebernya. (MC. Isen Mulang.1)

Martiana Winarsih

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner

Facebook