Mengenang 93 Tahun jejak Om Pram, Sang Sastrawan

Kontribusi dari Elga Arya Putra, 06 Februari 2018 10:55, Dibaca 902 kali.


MMCKalteng-Tepat hari ini Indonesia mengenang salah satu pengarang paling produktif dalam sejarah sastra Indonesia yang telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan lebih dari 41 bahasa asing.

Lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 silam, pria yang memilik nama asli Pramoedya Ananta Mastoer ini merupakan anak sulung dalam keluarganya, banyak penulis menyebutkan dengan nama Om Pram.

(Baca Juga : Gelar Karya, expo inovasi Kalteng dibuka hari ini)

Pram menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia. Semasa sekolah, Pram kecil bukan termasuk murid yang pandai, ia pernah tiga kali tak naik kelas di sekolah dasar, bahkan sang ayah menganggap dirinya anak bodoh. Meski begitu, secara umum nilai-nilai Pram cukup baik dan ia pun lulus dari sekolah kejuruan radio meski karena meletusnya perang dunia II di Asia, ijazahnya yang dikirim dari Bandung tak pernah ia terima.

Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer dan ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan, Pram kemudian ditangkap Belanda pada tanggal 22 juli 1947 dengan tuduhan menyimpan dokumen pemberontakan melawan Belanda yang kembali ke Indonesia untuk berkuasa. Ia kemudian di jatuhi hukuman penjara dan kemudian dipenjarakan di pulau Edam dan kemudian dipindahkan ke penjara di daerah Bukit Duri hingga tahun 1949 dan selama masa penahanannya tersebut, ia lebih banyak menulis buku dan cerpen. Pada tahun 1950-an tinggal di Belanda sebagai program pertukaran Budaya.

Pulang dari Belanda ia bergabung dengan Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Kemudian pada tahun 1958, didaulat menjadi pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kesenian Jakarta). Jabatannya sebagai pimpinan pusat Lekra membuat banyak seniman menjadi berseberangan pendapat dengan Pram. Semasa itu Pram banyak menulis karya-karya sastra dan juga tulisan-tulisan yang mengkritik pemerintahan Indonesia mengenai penyiksaan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.

Pram merupakan seorang kritikus yang berani dan tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia. Di sinilah mahakaryanya ditelurkan, yakni tetralogi Pulau Buru, yang mengisahkan perjalanan politik Minke atau Raden Mas Tirto Adhi Soerjo di dunia nyata. Pram tak mendapatkan pena dan kertas untuk menulis, karena itulah ia mengisahkan karya ini secara lisan pada sesama tahanan.

Setelah berhasil menulis secara sembunyi-sembunyi dengan kertas dan pena selundupun, karya ini dikenalkan ke publik lewat teman Pram, seorang pendeta Jerman dan seorang australia, Max Lane . Buntelan naskah diselundupkan keluar dari penjara untuk kemudian naik cetak. Selama rezim Soeharto, sulit untuk mendapatkan buku yang peredarannya dilarang ini. (EAP/Foto: Net/Berbagai Sumber)

Elga Arya Putra

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner

Facebook