Pesona Budaya melalui Mobil Hias

Kontribusi dari Gusti Mahfuz, 02 Juli 2019 07:38, Dibaca 578 kali.


Setiap daerah memiliki budaya, ciri khas serta keunikannya tersendiri. mulai dari bahasa, kesenian, adat istiadat. Pemeliharaan budaya suatu bangsa memiliki komitmen untuk memiliki jati diri yang khas. Upaya penting dalam memelihara menjadi tanggung jawab semua pihak. Dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap budaya diharapkan tumbuh sikap menghargai. Tumbuhnya sikap menghargai ini, pada gilirannya dapat menjadi modal penting untuk membangkitkan kesadaran bangsa terhadap nilai-nilai kebudayaan yang dimiliki. 

Pawai Taaruf mobil hias mengusung konsep merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan potensi yang ada di daerah. Dengan kegiatan ini masyarakat dapat lebih mengenal budaya melalui ornament yang mempercantik mobil hias sekaligus menyiarkan agama Islam. Saat mendesain mobil hias, pihak tim kerja senantiasa berkoordinasi dengan Pimpinan Kafilah Kalimantan Tengah, Drs. H. Nuryakin, M.Si., serta Pengurus LPTQ Provinsi Kalimantan Tengah. Hal ini dilakukan agar adanya kolaborasi berbagai ornamen yang sejalan dengan ketentuan pelaksanaan. Selain itu, dapat menginformasikan visi misi dan tekad Gubernur Kalimantan Tengah, H Sugianto Sabran, dalam mewujudkan Kalteng Berkah (Bermartabat, Elok, Religius, Kuat dan Amanah). Adapun dalam pewarnaan digunakan teknik pewarnaan yang lazim digunakan oleh Suku Dayak yakni “5 Ba” baputih (putih), bahandang (merah), babilem (hitam), bahijau (hijau) dan bahenda (kuning) berpadu dengan warna biru perlambang alam atas penanda kehidupan yang religius serta warna coklat perlambang alam bawah penanda siklus dan semangat dalam menapak kehidupan.

(Baca Juga : Literasi melalui Riset Perpustakaan)

Koordinator Tim Kerja Pawai Taaruf STQ Nasional, Dr. H. Suwarno Muriyat, menyebutkan bahwa membalut kubah dan pilar masjid menggunakan anyaman purun/rotan sebagai kekayaan dan kerajinan Kapuas serta tulisan kaligrafi dan peta Indonesia dari rotan. Adapun kedua pasang remaja putra dan putri menggunakan pakaian, lawung/sumping dan sepatu berpadu antara batik karya Ibu Ary Egahni Ben Bahat dengan anyaman rotan serta purun. Pada kesempatan yang sama diperkenalkan pula Batik Ary Egahni, anyaman rotan dan purun Kapuas dikancah nasional. Selain itu, ditampilkan lima tokoh lintas agama yang berbusana sesuai ciri agama masing-masing dan peta Indonesia sebagai simbol perekat NKRI. Adapun replika Al Quran sebagai pedoman bagi umat Islam serta foto Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah dan lambang negara Burung Garuda. 

Mobil hias Kapuas yang mewakili Provinsi Kalimantan Tengah menampilkan potensi yang dimiliki daerah. Pawai mulai dari halaman kantor Gubernur Kalimantan Barat selama tiga jam menyusuri sepuluh jalan protokol dalam Kota Pontianak mampu memukau masyarakat setempat. Pawai berakhir di Alun-Alun Kapuas, saat itu masyarakat Kalbar dan sesama peserta pawai taaruf se-Indonesia mengabadikan hasil kerja dari 15 orang Tim Kerja Pawai Taaruf. 

Masyarakat memperoleh kesempatan untuk mendapatkan informasi, pengetahuan, dan promosi ketika menyaksikan pawai ini. Pesona mobil hias mampu meningkatkan kepedulian akan budaya sendiri untuk generasi selanjutnya. Budaya sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kegiatan pendokumentasian kegiatan bukan hanya sebagai tempat penyimpanan dan pelestarian, melainkan berfungsi sebagai media pendidikan, penelitian, objek wisata budaya, dan objek pembinaan serta pengenalan bangsa. Pawai Taaruf ini pun dapat menjadi simbol akulturasi budaya yang berguna sebagai pengetahuan ilmiah untuk ikut membantu mengatasi masalah integrasi budaya dalam masyarakat multikultur. Pesona budaya melalui mobil hias menjadi magnet yang memikat masyarakat untuk menyaksikannya.(syatkmf)

Gusti Mahfuz

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner
Kalteng Bicara Baik.
Mari Jaga Lingkungan Kita.

Facebook