Sekilas Info
Kontribusi dari TIM NEWS, 04 September 2026 09:04, Dibaca 67 kali.
MMCKalteng - Palangka Raya – HumaLiterasi, RuangBacaku, dan Komunitas Teman Berjalan berkolaborasi menggelar kegiatan Jelajah Hutan Sebangau pada Agustus 2026. Kegiatan yang diinisiasi Carolina Cynthia tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi anggota komunitas untuk mengenal ekosistem hutan rawa gambut, konservasi satwa, serta pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.
Perjalanan dimulai pukul 06.30 WIB dengan menyeberangi sungai menggunakan perahu menuju kawasan hutan Sebangau. Keberangkatan sejak pagi memberikan kesempatan kepada peserta untuk menikmati suasana sungai sekaligus menyusuri kawasan konservasi dalam kondisi yang lebih sejuk.
(Baca Juga : Kepala Bapperida Kalteng Hadiri Natal Flo Go Tours & Travel Ministry)
Kolaborasi tersebut tidak hanya mempertemukan komunitas dengan latar belakang kegiatan yang berbeda, tetapi juga membangun keakraban melalui pengalaman belajar secara langsung di alam. HumaLiterasi dan RuangBacaku yang bergerak dalam kegiatan literasi bersama Teman Berjalan menghadirkan metode belajar yang tidak terbatas pada buku maupun ruang diskusi, melainkan melalui pengamatan langsung terhadap lingkungan hutan gambut.
Carolina Cynthia menyampaikan bahwa kegiatan Jelajah Hutan Sebangau dirancang sebagai pengalaman belajar yang menghubungkan manusia dengan alam secara langsung.
“Jelajah Hutan Sebangau bukan hanya tentang berjalan-jalan atau mencari tempat untuk berfoto. Kami ingin menciptakan ruang bagi teman-teman untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, sekaligus memahami bagaimana pentingnya menjaga lingkungan melalui pengalaman langsung di hutan,” ujar Carolina.
Menurutnya, proses belajar di alam memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pembelajaran di ruang tertutup. Peserta diajak mendengarkan suara burung, mengamati tumbuhan, serta melihat kondisi habitat satwa yang menjadi bagian dari ekosistem hutan gambut.
Peserta kemudian menyusuri titian kayu sepanjang kurang lebih satu kilometer dan mengunjungi sejumlah fasilitas ekowisata, mulai dari pelabuhan sebagai titik awal, galeri informasi, hingga menara pemantau setinggi 40 meter. Pengunjung yang menaiki menara dibatasi maksimal 10 orang secara bergantian dengan durasi sekitar 10 menit guna menjaga keselamatan dan kenyamanan.
Dalam perjalanan tersebut, pemandu menjelaskan bahwa lahan gambut merupakan salah satu penyimpan cadangan karbon alami yang penting. Gambut yang dibuka atau dikeringkan akan menerima lebih banyak oksigen sehingga mempercepat proses dekomposisi oleh mikroorganisme. Kondisi tersebut dapat melepaskan karbon dioksida ke udara, menyebabkan penurunan permukaan tanah, serta meningkatkan suhu kawasan hingga sekitar 40 derajat Celsius pada siang hari. Gambut yang mengering juga menjadi lebih rentan terhadap kebakaran.
Kawasan tersebut menjadi habitat sejumlah satwa liar, seperti orangutan, kelasi, owa kalawat, serta berbagai jenis burung. Flora khas yang dapat dijumpai meliputi pohon ramin dan tumbuhan bajakah. Dalam sesi berbagi hasil observasi, peserta memperoleh informasi mengenai bajakah yang menyimpan air, bajakah kuning yang secara tradisional dimanfaatkan untuk pengobatan, dan bajakah merah.
Penjelasan mengenai burung walet turut menarik perhatian peserta. Walet di kawasan hutan mencari makanan berupa serangga liar yang hidup di sekitar bunga-bunga alami. Sebagian keuntungan dari produk olahan sarang walet juga digunakan untuk mendukung reboisasi lahan bekas kebakaran dan operasional ekowisata berbasis konservasi.
Peserta turut mendapatkan penjelasan mengenai perubahan kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi penebangan pohon menjadi ruang pelestarian. Kitson Kusin menjelaskan bahwa perubahan fungsi kawasan tersebut merupakan bagian dari upaya panjang untuk menjaga ekosistem hutan Sebangau.
“Dulu kawasan ini menghadapi tekanan akibat aktivitas penebangan. Namun, melalui proses konservasi dan penelitian yang dilakukan bersama berbagai pihak, kawasan ini perlahan diarahkan menjadi ruang pelestarian dan pembelajaran bagi masyarakat,” jelas Kitson.
Ia juga menyampaikan bahwa keberadaan para peneliti dari CIMTROP memiliki peran penting dalam memahami kondisi ekosistem gambut serta mendukung upaya pemulihan kawasan.
Kawasan hutan Sebangau juga menjadi lokasi pendidikan lapangan bagi mahasiswa dan peneliti dari sejumlah negara, seperti Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Belanda, dan Mesir. Pengunjung diingatkan untuk meminta izin sebelum mengambil foto atau mendokumentasikan aktivitas penelitian sebagai bentuk penghormatan terhadap privasi.
Seluruh peserta diwajibkan membawa kembali sampah yang dihasilkan selama perjalanan. Sampah plastik berwarna merah dinilai berbahaya karena dapat disangka sebagai buah oleh orangutan. Keterbatasan fasilitas komersial di dalam kawasan turut mengajarkan peserta untuk lebih bertanggung jawab dengan membawa tumbler, makanan ringan, dan kebutuhan pribadi secara mandiri.
Perjalanan yang mencapai sekitar 7.000 langkah tersebut memberikan pengalaman edukatif sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas. Kehadiran peserta juga turut mendukung perekonomian masyarakat sekitar Dermaga Kereng Bangkirai melalui penggunaan jasa transportasi sungai dan layanan wisata lokal.
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi, berbagi hasil pengamatan, serta foto bersama. Kolaborasi HumaLiterasi, RuangBacaku, dan Teman Berjalan diharapkan dapat mendorong semakin banyak komunitas untuk belajar bersama, mengenal kekayaan hutan gambut, dan mengambil bagian dalam menjaga kelestarian lingkungan Kalimantan Tengah. (TRA/Foto:TND)