Kontrol Diri Anak

Kontribusi dari Gusti Mahfuz, 20 Februari 2019 09:03, Dibaca 1,005 kali.


Kemampuan orang tua untuk mengontrol diri secara baik dapat menjadi teladan bagi anak. Stoltz (2008) menjelaskan bahwa keberhasilan dalam menghadapi setiap masalah ada pada seseorang yang memiliki kontrol diri tinggi. Artinya orang tua memiliki kesabaran dalam menghadapi setiap permasalahan anak. Kontrol diri yang dimaksudkan sebagai suatu pengendalian tingkah laku seseorang yang cenderung bertindak positif dalam berpikir. 

Orang tua membantu anak untuk mengontrol diri berarti melatih anak untuk berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu. Tindakan tersebut dapat mendorong anak supaya mampu membedakan perilaku yang baik dan buruk, tingkah laku yang pantas dilakukan dan tidak. Orang tua dapat mengajarkan kepada anak untuk memahami berbagai emosi. Dalam hal ini berkaitan dengan mengajarkan anak untuk mengenali berbagai macam emosi, baik marah, sedih, gembira, kesal, kecewa maupun takut. Selanjutnya, orang tua memberitahukan kepada anak bahwa saat marah atau kesal tidak baik apabila melampiaskan dengan memukul, menjambak, atau melempar sesuatu. Namun, orang tua dapat melakukan pengalihan perhatian anak untuk berdamai dengan hati. 

(Baca Juga : Stop Stigma Negatif Penyintas COVID-19)

Kontrol diri yang diterapkan orang tua dengan mengajari anak untuk memecahkan masalah. Saat anak bingung memilih sesuatu atau membuat prioritas kegiatan. Caranya dengan memberikan anak waktu sejenak untuk berpikir lalu mendengarkan keputusan tindakan yang dilakukan. Kontrol diri selanjutnya dapat melalui aturan. Orang tua dapat memberitahukan anak pada aturan-aturan tertentu. Aturan itu harus dijelaskan alasan dibuat dan risiko jika melanggar. Contoh aturan jadwal belajar, jadwal penggunaan media sosial, jadwal menonton televisi dll. Dengan demikian, dapat membantu anak untuk mengetahui aturan dulu sebelum bertindak.

Anak dapat mempelajari semua hal dari orang di sekitarnya terutama orang tua. Orang tua memberikan contoh perilaku yang baik dapat mengasah kemampuan anak dalam memutuskan suatu tindakan. Caranya dengan memperlihatkan setiap masalah yang dihadapi dan solusinya. Misalnya saat orang tua kecewa karena anak tidak mau membaca buku. Seyogianya orang tua mengajak anak dengan berbicara baik-baik. Artinya jangan langsung dimarahi atau dibentak karena nanti anak justru akan menirunya. Sebaiknya temani anak untuk membaca buku, walaupun perlu waktu lama. Dengan melakukan cara ini anak secara alami akan mengikuti yang dilakukan orang tua.

Penerapan kontrol diri dapat diartikan dengan kemampuan anak untuk mengendalikan dirinya sendiri secara sadar supaya menghasilkan perilaku yang tidak merugikan orang lain, sehingga sesuai dengan norma sosial dan dapat diterima. Ada tiga aspek kontrol diri yang diterangkan Calhoun & Acocella (1990), yakni: pertama, kontrol perilaku (behavior control) merupakan kesiapan atau kemampuan seseorang untuk memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kemampuan mengontrol perilaku mengacu pada kemampuan untuk menentukan pihak yang mengendalikan situasi, baik diri anak, orang tua, maupun orang lain di sekitarnya. Kedua, kontrol kognitif (cognitive control) berarti kemampuan individu utuk mengelola informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau memadukan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi tekanan. Ketiga, kontrol dalam mengambil keputusan (decision making) terkait dengan kemampuan untuk memilih suatu tindakan berdasarkan sesuatu yang diyakini atau disetujui. Ketika anak belajar mengontrol diri, anak dapat membuat keputusan yang tepat dalam menanggapi situasi yang menekan dengan cara yang bisa memberikan hasil yang positif.(syatkmf)

Gusti Mahfuz

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Artikel
Artikel
Artikel
Berita Terbaru
Radio Corner

Facebook