TIWAH : MAHAPUS PALI BELUM

Kontribusi dari Misyuwe, 18 Februari 2018 10:46, Dibaca 1,013 kali.


MMCKalteng- Tiwah juga memiliki arti “mahapus pali belum” karena adanya sebuah kematian dari anggota keluarga. Penganut agama Hindu Kaharingan suku Dayak Kalimantan Tengah melakukan upaca Tiwah sebagai perwujudan rasa tanggung jawab dan merupakan hutang kepada arwah leluhur atau keluarga yang belum ditiwahkan meskipun pihak keluarga sudah pindah keyakinan keagamaan lain tidak menghalangi yang bersangkutan untuk melaksanakan kewajibannya meniwahkan leluhur/keluarganya tersebut.

Bagi penganut Hindu Kaharingan, kematian dari seorang anggota keluarga menimbulkan Pali-Belum, yang disebut juga oleh masyarakat Dayak dengan sebutan basial atau sial, dan sial akibat kematian tersebut hanya dapat dihapuskan dengan melaksanakan upacara tiwah.

(Baca Juga : Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kalteng Membuka Secara Langsung Rapat Evaluasi Pelaksanaan Dana Desa TA 2020)

Untuk orang yang meninggal yang ditiwahkan, segala perbuatan semasa hidup yang mengandung sial, kesalahan (dosa), hanya dapat dibersihkan  melalui tiwah dan ia baru berhak menempati suatu kehidupan selanjutnya yang disebut Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang Rundung Raja Isen Kamalesu Uhat. 

Tiwah merupakan pelaksanaan upacara yang wajib dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan apabila ingin memiliki hidup yang lebih baik dan tidak ingin mengalami kesialan dan memberikan Lewu Tatau (Sorga) bagi keluarga yang meninggal. Upacara Tiwah juga merupakan suatu wujud pelaksanaan nilai agama, budaya, etika dan nilai sosial didalam kehidupan, khususnya bagi masyarakat Dayak yang beragama Hindu Kaharingan.

Selain itu, Upacara Tiwah yang dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan kalteng juga mengandung nilai inisiasi (pensucian) bagi yang meninggal dan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Pelaksanaan upacara tiwah dikaji dari nilai religius adalah pelaksanaan yajna sebagai upaya menciptakan keseimbangan antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan dan keseimbangan antara manusia dan alam lingkungannya, hal ini digambarkan pada sarana upacara, beras digunakan sebagai alat penghubung manusia dengan Tuhan.

Upacara Tiwah  merupakan ungkapan rasa syukur atas kehidupan yang diberikan sang pencipta bagi agama Hindu Kaharingan, dan sebagai penyucian yang merupakan tanggung jawab dan kewajiban anak untuk menebus hutang (Rna) kepada leluhur, orang tua, dan keluarganya. (Yuwe/ Foto: Berbagai sumber/ foto: Net)

Misyuwe

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner
Kalteng Bicara Baik.
Mari Jaga Lingkungan Kita.

Facebook