Tjilik Riwut, Jurnalisme dan kemajuan Suku Dayak dalam 100 Tahun

Kontribusi dari Elga Arya Putra, 02 Februari 2018 09:56, Dibaca 1,228 kali.


MMCKalteng-Kecintaan Tjilik Riwut terhadap budaya leluhurnya, banyak dituangkannya dalam bentuk tulisan. Bapak pembangunan ini mempunyai ketertarikan dalam dunia tulis menulis yang membuatnya memutuskan untuk menjadi wartawan dan menyerukan perjuangan nasional. Semasa bergelut dengan bidang jurnalistik, Tjilik Riwut banyak menyumbangkan tenaga dan pikiran menyebarkan berita seputar pergerakan nasional di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Dia juga pernah bergabung bersama Sanusi Pane di Harian Pembangunan dan Pernah bergabung bersama para wartawan generasi muda Suku Dayak terkemuka, yaitu Mahir Mahar; C.Luran, Christian Nyunting, dan H.Nyangkal serta pelopor dan perintis pers di kalimantan tengah yaitu Hausmann Baboe di majalah bulanan Soeara Pakat yang bergairah menyuarakan semangat dan cita-cita kebangsaan yang  menjadi dasar perjuangan Pakat Dayak.

(Baca Juga : Gubernur Membuka Golf Tournament Gubernur Cup 2018 di Sentul Highlands Bogor)

Berikut ini adalah tulisan Tjilik Riwut yang dimuat didalam Soeara Pakat pada tanggal 23 Desember 1939 sewaktu beliau berada di Karawang. Tulisan ini merupakan bentuk keprihatinan atas nasib masyarakat Dayak – judul aslinya KAMIAR OETOES ITAH DAJAK HONG 100 NYELO – KEMAJUAN SUKU DAYAK DALAM 100 TAHUN.

Banjarmasin, 23 Desember 1939

Apabila aku duduk menyendiri, aku merasa sangat menderita, apabila aku membandingkan kemajuan sukuku pada waktu ini. Tidak terasa air mataku mengalir, apabila aku membandingkan suku lain di lingkungan kita. Apabila aku melihat kemajuan sukuku pada masa ini dibanding dengan suku lain sangat berbeda pada abad keduapuluh ini. Baik sekolah, baik kemajuan di dusun-dusun, baik dari segi politil, baik dalam menata kota, memang sangat jauh ketinggalan dibandingkan dari suku lain.

Kalau kita melihat dari suku-suku lain apalagi dari suku-suku di Pulau Jawa sangat jauh tertinggal. Apabila aku tidak keliru Suku Dayak sudah mengenal sekolah kurang lebih 100 tahun yang lalu termasuk di pedalaman-pedalaman Kalimantan Tengah. Tetapi kita merasa heran karena sudah selama ini, Suku Dayak masih tetap tertinggal dibandingkan suku-suku lain disekeliling kita. Apalagi kalau kita melihat kemajuan suku lain seperti orang Batak, dalam 75 tahun terlihat jelas kemajuan mereka. Mereka dapat sekolah dari sekolah yang paling rendah, menengah dan ada juga mereka yang sudah duduk di sekolah yang lebih tinggi, bahkan sudah memperoleh titel sarjana. Tetapi mengapa suku kita Dayak belum bisa seperti mereka? (Sumber Tulisan Surat: Folks Of Dayak)

(EAP/ Foto: Net )

Elga Arya Putra

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner

Facebook