Ornamen Mobil Hias Pawai Ta’aruf

Kontribusi dari Gusti Mahfuz, 29 April 2019 08:51, Dibaca 488 kali.


Mobil hias ikut serta dalam memeriahkan pawai ta’aruf Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) XXII tingkat Provinsi Kalimantan Tengah di Palangkaraya. Pawai ini dilepas langsung oleh Sekda Provinsi Kalteng yang juga Ketua Umum STQ Kalteng di depan Istana Isen Mulang Bundaran Besar Kota Palangkaraya. Saat itu berderet mobil hias memukau masyarakat. Tampak mobil hias asal Kapuas berornamen burung tingang yang dibalut dengan ukiran khas etnik Dayak. Mobil hias asal Kapuas juga menyuguhkan tema “Jaga NKRI Masyarakat Pelihara Persaudaraan”.  Masyarakat yang menonton pun menyambut pawai dengan antusiasme yang tinggi. Mereka berjajar rapi dan memadati rute yang dilewati pawai.

Mobil hias dengan ukiran khas etnik Dayak memiliki warna yang sangat memukau. Dominan warna yang dipakai adalah biru, kuning, hijau, merah, dan coklat. Warna tersebut sebagai cerminan yang memiliki segi positif. Berikut segi positif dari warna yang terdapat pada ukiran Dayak, yakni: warna merah memberi stimulasi dan dominan yang erat kaitannya dengan sifat hangat; warna hitam berkaitan dengan ketekunan dan pantang menyerah, warna kuning berkaitan dengan kreativitas, energi, cerdas, dan akal bahagia; warna biru berkaitan dengan hal damai menyejukkan, kesabaran, rasa percaya, dan stabilitas; dan warna coklat berkaitan dengan hal kehangatan, kepercayaan, keakraban, keberanian, keramahan, dan ketradisionalan (Amalia, 2012). 

(Baca Juga : Kearifan Lokal)

Pawai yang digelar ini menampilkan budaya dan tradisi daerah Kalimantan Tengah yang dimiliki setiap Kabupaten/Kota. Cerita burung tingang yang diturunkan secara turun-menurun oleh masyarakat Dayak dikaitkan dengan relevansi karakter. Kearifan lokal yang dapat ditelusuri masa lalu, masa kini, dan masa akan datang. Nilai yang menjadi falsafah hidup yang menjadi pedoman dalam tatanan hidup. Pemaknaan atas simbol yang terkait dengan sistem religi yang diyakini.

Simbol burung tingang yang digunakan tidak hanya pada tempat-tempat tertentu, tetapi juga digunakan pada mobil hias. Keberadaaan simbol ini membuktikan bahwa eksistensi burung tingang tidak dapat dipisahkan pada kehdupan masyarakat Kapuas. Burung tingang dimaknai sebagai sebuah nilai kebaikan. Burung tingang memiliki sifat melindungi sama seperti sifat-sifat pemimpin yang bijaksana, baik, dan dapat melindungi masyarakat dari hal-hal yang dapat membahayakan. Burung tingang akan melindungi anak-anaknya. Selain itu, burung tingang juga membawa semangat bela negara. 

Burung tingang sebagai makhluk hidup yang lahir, tumbuh, dan berkembang di alam hutan yang masih asri di Kalimantan. Pada umumnya merupakan penghuni hutan primer dengan banyak pohon besar dan tua. Hal ini dimaksudkan agar burung dapat bersarang dalam lubang-lubang pohon. Suara keras kepakan sayapnya menandakan kehadirannya. Di bawah sayap burung tingang dapat bernaung dan dapat mempersatukan karena burung tersebut memiliki kekuatan dan naluri yang baik, sehingga dapat mengokohkan persatuan etnik Dayak.

Kapuas saat menjadikan burung tingang sebagai lambang di mobil hias karena sosok burung tersebut sebagai sosok burung yang paling baik karena dapat mengayomi burung-burung yang lain. Burung tingang tidak serakah, sehingga dapat dijadikan teladan pemimpin. Makna yang dilekatkan pada burung tingang dapat tergambarkan semua kebaikan sebagai konsep ideal pada kehidupan masyarakat Dayak. Sifat yang baik tersebut melekat pada sosok burung dan harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Masyarakat yang menginginkan pemimpin yang ideal supaya kehidupan dapat dikendalikan, diatur, dan dilaksanakan dengan baik. Hal ini menyiratkan bahwa sosok burung tingang sebagai pemimpin yang mengayomi dan menjaga masyarakat.(syatkmf)

Gusti Mahfuz

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Artikel
Artikel
Artikel
Artikel
Artikel
Artikel
Berita Terbaru
Radio Corner
Kalteng Bicara Baik.
Mari Jaga Lingkungan Kita.

Facebook