Teknologi 4.0 untuk Nelayan

Kontribusi dari Gusti Mahfuz, 24 April 2019 08:43, Dibaca 285 kali.


Oleh

Dr Rusma Noortyani MPd

(Baca Juga : Partisipasi Meraih Sukses)

Dosen FKIP ULM/Ketua Yayasan Nur Amalia

 
Keluarga nelayan sebagai keluarga yang berpenghasilan utamanya menangkap ikan di laut dan umumnya mereka tinggal di daerah pesisir pantai atau tidak jauh dari bibir pantai. Laut menjadi lahan hidup yang paling utama untuk keluarga nelayan. Sumber daya ekonomi perikanan menjadi sumber daya utama dalam menggerakkan roda ekonomi dan perdagangan keluarga nelayan. Keluarga nelayan memiliki karakteristik berbeda dari keluarga lainnya. Saat bekerja mereka harus menghadapi ganasnya ombak dan cuaca laut, tinggal berhari-hari di laut supaya mendapatkan banyak ikan. Permukiman mereka berkelompok dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya. 

Terkait dengan kehidupan keluarga nelayan perjalanan hidup untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari, baik keperluan pendidikan maupun akses jaminan kesehatan. Ditambah ketika musim ikan yang tidak menentu dengan diperparah kondisi cuaca yang kadang ekstrim membuat nelayan tradisional tidak bisa meningkatkan kesejahteraan sosial. Untuk itu peran pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup keluarga nelayan. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan Seminar nasional yang diselenggarakan di Telkom Landmark Tower Jakarta sekaligus launching Program Satu Juta Nelayan Berdaulat melalui dukungan Teknologi 4.0 Menteri Luhut berharap program tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan di Indonesia. Pakar sistem dan Permodelan Perikanan pelaku Usaha Perikanan maupun Direktur Utama Telkom Alex J Sinaga yang mengenalkan layanan aplikasi dan komunikasi industri maritim, yaitu USAT (Ultra Small Apperture Terminal). Secara khusus, layanan ini menargetkan kapal-kapal kecil, baik di skala regional maupun untuk daerah pesisir terutama sektor perikanan dan layanan offshore akan memainkan peran penting dalam usaha memodernisasi industri, seperti perikanan, manajemen kapal yang efisien dan untuk meingkatkan kualitas hidup serta kesejahteraan jutaan para nelayan. Aplikasi dan teknologi ini akan segera diperkenalkan kepada para nelayan supaya mereka dapat mengetahui daerah tangkapan yang banyak, perkiraan bahan bakar yang diperlukan serta dapat berkomunikasi dan bertransaksi dari tengah laut.

Selama ini nelayan tradisional yang menggunakan alat-alat penangkapan tradisional mendapatkan hasil perikanan yang fluktuatif dan tidak pasti. Pasang surut produksi perikanan berpengaruh besar terhadap dinamika ekonomi dan perdagangan keluarga nelayan. Nelayan tradisional dengan kepemilikan kemampuan peralatan tangkap dan modal usaha yang terbatas, harus puas dengan kenyataan yang ada dan persaingan yang semakin keras dalam memperoleh hasil tangkapan. Usaha nelayan modern menggunakan teknologi penangkapan yang lebih canggih dibandingkan usaha nelayan tradisional. 

Ukuran modernitas bukan semata-mata karena penggunaan motor untuk menggerakkan perahu, melainkan juga besar kecilnya motor yang digunakan serta tingkat eksploitasi dari alat tangkap. Secara sosiologis, karakteristik masyarakat nelayan berbeda dengan karakteristik masyarakat petani, seiring dengan perbedaan karakteristik sumber daya yang dihadapi. Masyarakat petani menghadapi sumber daya yang terkontrol, yakni pengelolaan lahan untuk produksi suatu komoditas dengan pengeluaran yang relatif bisa diprediksi. Nelayan menghadapi sumber daya yang masih memiliki akses terbuka, artinya kemudahan dalam mengeksplorasi hasil laut dan tanpa ada yang mengontrol. Namun, hal ini akan berakibat sumber daya ikan akan cepat habis. Karakteristik ini menyebabkan nelayan mesti berpindah-pindah untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan demikian elemen resiko menjadi sangat tinggi. Masyarakat nelayan memiliki pola-pola kebudayaan yang berbeda dari masyarakat lain sebagai hasil dari interaksi mereka dengan lingkungan beserta sumber daya yang ada di dalamnya.(syatkmf)

Gusti Mahfuz

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner
Mari Jaga Lingkungan Kita.
Kalteng Bicara Baik.

Facebook