Tradisi menjadi Wisata

Kontribusi dari Gusti Mahfuz, 28 Februari 2019 09:51, Dibaca 911 kali.


Tradisi berasal dari masa lalu tetapi masih ada sampai kini dan belum dihilangkan. Tradisi sebagai warisan masa lalu tersebut mencakup kelangsungan masa lalu dimasa kini. Hal ini senada dengan kalimat yang dikatakan Sztompka (2007) tradisi merupakan keseluruhan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu, tetapi masih ada hingga kini dan belum dihancurkan. Tradisi berarti segala sesuatu yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu ke masa kini.

Tradisi dapat menjadi daya tarik wisata sosial budaya untuk dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai objek seperti museum, peninggalan sejarah, upacara adat, seni pertunjukan, dan kerajinan. Daya tarik ini dipertahankan karena memiliki nilai khusus dalam bentuk atraksi kesenian dan nilai luhur yang terkandung dalam suatu objek masa lampau. Adanya keunikan, kelangkaan, dan keaslian adat yang dilakukan sehari-hari seperti dalam berpakaian dan kehidupan keluarga dapat menumbuhkan semangat dan memberikan nilai bagi wisatawan.

(Baca Juga : Potensi Karang Taruna)

Sumber sejarah tradisi dapat dipengaruhi oleh sistem kepercayaan yang dimiliki masyarakat. Sejarah berkaitan dengan tradisi sebagai dasar pengungkapan aspek kesejarahan maupun fakta sejarah, khususnya sejarah lokal dari suatu etnik. Tradisi lisan dan tradisi naskah memiliki peran yang penting dalam pengungkapan sejarah lokal. Dalam sejarah akan tampak makna dari proses sejarah. Ketika meneliti sejarah akan dicari pengetahuan sejarah dan makna yang menguasai kejadian-kejadian sejarah. Selain itu, sejarah juga akan mengungkapkan hubungan antara fakta-fakta untuk sampai pada asal usul dan tujuannya. Kekuatan yang menggerakkan sejarah kearah tujuannya berkaitan dengan proses sejarah. Sejarah memiliki makna jika kejadian-kejadian ditinjau dengan pandangan ke masa depan atau harapan akan terwujudnya masa depan (Kartodirdjo, 1971:7).

Perkembangan sejarah menyangkut hal-hal yang merupakan inti acara dari tradisi adat. Sejarah dari perkembangan yang ada, yaitu dengan penambahan kegiatan-kegiatan yang dapat menambahkan kemeriahan tradisi. Tujuannya lebih memantapkan keberadaan dan menjaga kelestarian tradisi ini dalam masyarakat setempat. Berbagai ekspresi masyarakat yang dinyatakan dalam tradisi lisan memang tidak hanya berisi cerita dongeng, mitologi, atau legenda seperti yang umumnya diartikan, tetapi juga mengenai sistem kognitif masyarakat, sumber identitas, sarana ekspresi, sistem religi dan kepercayaan, pembentukan dan peneguhan adat-istiadat, sejarah, hukum, pengobatan, keindahan, kreativitas, asal-usul masyarakat, dan kearifan lokal mengenai ekologi dan lingkungannya. Pengungkapan kelisanan tersebut disampaikan terutama dengan mengandalkan faktor ingatan. Penutur atau tukang cerita memang mengingat bukan menghafalkan apa yang akan disampaikannya (Lord, 1976; Sweeney, 1980 dan 1987; Ong, 1982).

Sikap dan orientasi ini menempati bagian khusus dari keseluruhan warisan historis dan mengangkatnya menjadi tradisi. Arti penting penghormatan atau penerimaan secara sosial ditetapkan sebagai tradisi menjelaskan bahwa fenomena tradisi itu dapat menarik. Dengan dioptimalkan potensi pariwisata melalui wisata sosial bidaya yang dimiliki daerah menjadi promosi. Promosi menjadi tahapan dalam pemasaran dan tahap ini memiliki peran penting dalam usaha untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Kegiatan promosi yang efektif merupakan hal yang sangat esensial dalam pengembangan pariwisata di daerah. Kebijakan pemerintah, staf pelayanan, kepuasan wisatawan termasuk tiga faktor terpenting yang berpengaruh terhadap efektivitas promosi pariwisata.(syatkmf)

Gusti Mahfuz

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner

Facebook