Suara Kesatuan Tarian

Kontribusi dari Gusti Mahfuz, 20 Agustus 2019 20:16, Dibaca 686 kali.


Aktivitas berkesenian dapat menampung kekhasan yang tertuang dalam pemberian pengalaman mengembangkan konsepsi, apresiasi, dan kreasi. Kekhasan tersebut dalam sebuah tarian tradisional bisa terbentuk oleh latar belakang kultur daerah masing-masing. Tari tradisional menjadi bagian hidup bermasyarakat dalam konteks budaya. Identitas tari dan kekhasan tari tradisional menjadi refleksi kultur masyarakat, adat istiadat, kebiasaan, kehidupan bermasyarakat dalam perilaku sehari-hari, ritual, dan kepercayaan yang disepakati secara sadar ataupun sebaliknya.

Tarian menampilkan ratusan penari dan pemusik tepatnya 221 orang yang tergabung dalam tim kesenian Kalimantan Tengah mempertunjukkan tarian Hyang Dadas di momen penurunan bendera 17 Agustus 2019 di Istana Merdeka. Menyitir dari narasi yang dibacakan pembawa acara tentang Hyang Dadas bermakna doa penyembuh yang tak sekadar dipetik dari ritual wadian tetapi menjadi sebuah narasi keberagaman tari tradisi di tanah berkah Kalteng.

(Baca Juga : Jiwa Budaya Lokal )

Tari Hyang Dadas seperti yang dikatakan Dwi Tia Amanda Putri pimpinan produksi tari Hyang Dadas dari tim kesenian Kalteng. Tarian ini merupakan seni yang memadukan unsur gerak dari tari asli Dayak Kalteng dengan diiringi musik tradisional yang energik. Tarian ini dibawakan sebagai ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa yang memberikan anugerahnya dalam kehidupan Suku Dayak. Pesan dari tari Hyang Dadas yang ingin disampaikan adalah The Voice of Unity (suara kesatuan) dan ditampilkan dengan bunyi-bunyian dari gelang yang dipakai oleh para penampil. 

Tari, adalah ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan melalui gerak ritmis yang indah (Soedarsono, 1997). Elemen dasar tari adalah gerak, yaitu ritme yang telah mendapat stilasi (penghalusan), sehingga menjadi indah dan menjadi gerakan yang tidak persis, seperti meniru gerakan sehari-hari manusia. Berbagai faktor cara mempersiapkan tarian, seperti mempersiapkan sebuah pertunjukan, penataan gerak, penataan busana, penataan iringan, tempat sajian (panggung), seting panggung, segi artistik sebuah tempat sajian, cara memublikasikannya, cara menyajikannya, dan seluruh materi pendukung yang berkaitan dengan sajian pertunjukan tari. 

Tarian dapat dihasilkan berdasarkan tiga cara, yaitu: pertama, melalui mata sebagai alat untuk melihat benda fisik. Mata berfungsi untuk melihat wujud benda dapat memberikan input bagi alat rekam manusia yang ada di otak. Objek yang dilihat bisa berupa benda, kegiatan manusia, atau perilaku manusia. Kedua, melalui musik/bunyi sebagai rangsang audio terhadap tema/gerak. Musik menjadi rangsang gerak dalam berkreativitas. Bunyibunyian yang terdengar di telinga kita bisa berbentuk lagu, musik yang dimainkan dari alat musik, suara manusia, atau suara binatang dapat dijadikan sumber ide atau inspirasi penciptaan karya tari. Musik yang terdengar lembut dengan yang berirama ritmis, atau dengan ketukan yang tetap, akan menimbulkan efek yang berbeda dalam perasaan kita. Ketiga, melalui perasaan dan pikiran sebagai dorongan psikologis dan pengalaman batinnya rangsang melalui pikiran dan perasaan yang ingin diwujudkan pada sebuah karya. Bekal ilmu, kemampuan, wawasan, serta pengalaman seseorang dalam menggeluti dunia seni tidak akan luntur atau hilang. 

Sebuah tarian dapat lahir sebagai cara masyarakat dalam mengekspresikan melalui karya. Keunikan dari jenis tari yang hidup di kalangan rakyat dapat dilihat dari pola gerak, rias, busana, dan iringannya sederhana; gerakannya dilakukan secara spontan; ungkapan rasa para penampil; terjadi interaksi antara penari dan penonton; menunjukkan suasana yang akrab; merupakan sarana dalam pergaulan masyarakat; dan tempat sajian tari umumnya menggunakan bentuk lingkaran atau arena.(syatkmf)

Gusti Mahfuz

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Artikel
Artikel
Artikel
Artikel
Berita Terbaru
Radio Corner
Kalteng Bicara Baik.
Mari Jaga Lingkungan Kita.

Facebook