Sejarah dan Tradisi Perayaan Imlek

Kontribusi dari Ari Purna Prahara, 04 Februari 2019 17:15, Dibaca 1,075 kali.


MMCKalteng – Masyarakat keturunan Tionghoa di seluruh Indonesia akan melaksanakan Tahun Baru Imlek ke 2570, yang jatuh pada tanggal (5/2/2019).

Tahun Baru Imlek merupakan hal yang sangat penting dan ditunggu-tunggu setiap tahun bagi masyarakat etnis Tionghoa ataupun keturunan Tionghoa. Perayaan itu sangat meriah dan juga dirayakan oleh berbagai masyarakat keturunan Tionghoa yang ada di berbagai negara, termasuk di Indonesia. 

Pada penanggalan kalender khusus Tionghoa, Tahun Baru Imlek dirayakan setiap tanggal 1 di tahun yang baru, sedangkan akhir perayaan Imlek tersebut ada di pertengahan bulan pada saat bulan purnama atau tanggal 15, perayaannya sering disebut Cap Go Meh.

(Baca Juga : Bongkar Muat Barang Di Dermaga Rambang Beralih Ke Tanjung Pinang)

Sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan suatu tahun masih belum jelas, ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di Tiongkok.

Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalender Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12, sejak Dinasti Shang dan Zhou (menurut Sima Qian).

Kaisar pertama Tiongkok Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun baru Tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah pada masa Dinasti Han, menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang, tujuannya agar perayaan tahun baru bisa sesuai dengan masyarakat Tiongkok yang pada umumnya adalah masyarakat agraris.

Pada masa dinasti Zhou, perayaan tahun baru dilaksanakan pada saat winter solistice atau dongzhi.

Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia identik dengan beberapa hal, diantaranya sebagai berikut,

1. Angpao

Imlek kurang lengkap rasanya tanpa angpao atau amplop yang berisikan uang. Angpao ini memang merupakan salah satu tradisi di mana orang dewasa yang sudah menikah wajib memberikan uang sebagai tanda kemakmuran dan membagi kebahagiaan kepada anak-anak. Angpao juga bisa diberikan kepada mereka yang belum menikah. Amplop atau angpao ini harus dibungkus dengan amplop berwarna merah dan diberikan ketika perayaan tahun baru tiba.

2. Jeruk

Selanjutnya, hal yang tidak boleh dihilangkan ketika Imlek tiba adalah ketersediaan buah jeruk. Meskipun umum, buah yang satu ini menjadi makanan khas Imlek, biasanya buah jeruk ini dihidangkan bersama dengan tangkai dan daunnya. Bagi masyarakat Tiongkok, jeruk melambangkan rezeki yang melimpah dikarenakan jeruk berwarna kuning keemasan. Warna emas melambangkan kemakmuran, kekayaan, serta kesejahteraan yang akan selalu tumbuh.

 3.Ikan Bandeng

Sebagian masyarakat etnis Tionghoa atau keturunan Tionghoa mengkonsumsi ikan bandeng secara bersama-sama ketika Imlek tiba. Ikan tersebut dipercaya dapat mendatangkan hoki atau keberuntungan.

4.Kue Keranjang

Ciri khas selanjutnya yang tidak boleh dilewatkan ketika Imlek tiba adalah kue keranjang. Tak lengkap rasanya perayaan Imlek tanpa kue coklat yang satu ini. Kue keranjang atau biasa disebut sebagai Nian Gao, berarti kue tahunan karena hanya dibuat setahun sekali yaitu menjelang Imlek. Bahan dasarnya sederhana yakni tepung ketan dan gula merah. Kue keranjang umumnya berbentuk bulat dan agak tebal. Dari filosofinya, kue keranjang ini sebenarnya merupakan bentuk harapan keluarga agar dapat terus bersatu dan melewati berbagai masalah yang terjadi pada tahun tersebut.

5.Barongsai

Barongsai merupakan tarian tradisional Tiongkok. Pemainnya menggunakan sarung yang menyerupai singa dengan warna dominan merah dan kuning. Atraksi Barongsai adalah salah satu budaya yang wajib dilakukan ketika Imlek tiba. Barongsai selalu ada saat perayaan Imlek sebagai kepercayaan bahwa barongsai bisa mengusir nasib buruk.

Makna Imlek merupakan satu akar budaya, di mana saat perayaan itu berlangsung, seluruh keluarga berkumpul dan bersama-sama secara khusyuk mengenang leluhurnya.

Tak hanya itu, makna imlek juga diartikan sebagai perayaan yang dilakukan oleh petani-petani di Tiongkok setelah melalui musim dingin yang sangat menusuk dan kemudian para petani mensyukuri permulaan musim semi dengan penuh harapan.

Selama perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa merayakannya dengan sembahyang Imlek, sembahyang pada Thian, dan perayaan Cap Go Meh yang bertujuan sebagai wujud syukur serta doa harapan, agar di tahun depan mendapatkan rezeki yang lebih banyak. (ARP/Foto:Internet)

 

Ari Purna Prahara

Merupakan salah satu kontributor di Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.

Berita Lainnya
Berita Terbaru
Radio Corner
Kalteng Bicara Baik.
Mari Jaga Lingkungan Kita.

Facebook